Patokan global ini juga turun sekitar 21 persen pada bulan Juni setelah penurunan 19 persen pada bulan Mei, penurunan bulanan terbesar sejak Maret 2020, karena kekhawatiran akan gangguan pasokan yang berkepanjangan melalui Selat Hormuz mereda.
Tidak adanya pembicaraan langsung telah memperkuat ketidakpastian tentang seberapa cepat Washington dan Teheran dapat menyelesaikan masalah yang belum terselesaikan dalam kerangka negosiasi 60 hari mereka, termasuk masa depan Selat Hormuz.
Data pasar tenaga kerja AS minggu ini akan dipantau dengan cermat untuk mendapatkan petunjuk baru tentang langkah kebijakan Fed selanjutnya. Laporan JOLTS pada hari Selasa menunjukkan Lowongan Kerja naik menjadi 7,594 juta pada bulan Mei, melampaui ekspektasi pasar sebesar 7,3 juta. Sementara Indeks Kepercayaan Konsumen Conference Board AS pada bulan Juni membaik karena kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran menurunkan harga bahan bakar.
Perhatian sekarang beralih ke laporan Perubahan Ketenagakerjaan ADP yang akan dirilis malam ini, diikuti oleh laporan Nonfarm Payrolls (NFP) pada hari Kamis, yang akan dirilis sehari lebih awal di tengah pekan yang dipersingkat karena hari libur AS.
Dari sentimen domestik, pasar merespon negatif terhadap rilis data Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) pada Mei 2026 defisit US$ 1,61 miliar. Defisit ini merupakan defisit pertama sejak 6 tahun lalu. Kondisi defisit itu disebabkan nilai impor yang lebih tinggi dari ekspor, yakni sebesar US$ 24,81 miliar, sedangkan ekspor RI US$ 23,20 miliar. Ini adalah defisit pertama RI sejak surplus selama 72 bulan beruntun sejak Mei 2020.
Defisit pada Mei 2026 disebabkan pada komoditas migas sebesar defisit US$ 3,76 miliar dengan penyumbang defisit komoditas migas hasil minyak dan minyak mentah. Adapun, dari catatan BPS, impor memang meningkat hingga 22,16% jika dibandingkan Mei 2025. BPS mencatat impor migas sebesar US$ 4,51 miliar meningkat 70,78% secara tahunan atau year on year/yoy. Impor nonmigas US$ 20,30 miliar atau naik 14,69%. Impor tahunan didorong impor non migas dengan andil 12,95%.
Selain itu, inflasi tahunan pada Juni 2026 berada di level 3,34% (YoY). Kelompok pengeluaran makanan, perawatan pribadi, hingga transportasi menjadi penyumbang utama inflasi pada periode tersebut. Realisasi inflasi ini sejalan dengan pergerakan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,27 pada kondisi Juni 2025 menjadi 111,89 pada kondisi Juni 2026 yang menunjukkan peningkatan dalam satu tahun terakhir tetapi tetap berada dalam kisaran target Bank Indonesia.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.950-Rp17.810 per dolar AS.
(Taufik Fajar)