JAKARTA – Industri Meetings, Incentives, Conventions and Exhibitions (MICE) semakin menunjukkan perannya sebagai salah satu penggerak ekonomi nasional. Selain mendorong pertumbuhan sektor pariwisata, penyelenggaraan berbagai pameran, konferensi, dan forum internasional juga memberikan dampak berantai terhadap industri perhotelan, transportasi, kuliner, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pemerintah menargetkan kontribusi devisa sektor MICE meningkat dari sekitar 10 persen menjadi 15 persen pada 2029. Target tersebut akan dicapai melalui penguatan ekosistem penyelenggaraan event, peningkatan daya saing destinasi, serta perluasan manfaat ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Kinerja industri MICE sendiri menunjukkan tren positif. Hingga September 2025, Indonesia berhasil menyelenggarakan 134 event nasional yang menarik sekitar 10,8 juta pengunjung. Di tingkat global, Indonesia kini menempati peringkat ke-37 dunia dan posisi keempat di kawasan ASEAN sebagai destinasi penyelenggaraan MICE.
Peluang ekonomi tersebut semakin besar setelah Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah Global Sustainable Development Congress (GSDC) 2026 yang akan digelar di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD. Forum internasional ini diperkirakan menghadirkan lebih dari 5.000 peserta, 500 pembicara, 200 peserta pameran, serta delegasi dari lebih dari 100 negara.
General Manager ICE BSD, Siti Karmila, mengatakan penunjukan tersebut menjadi bukti meningkatnya kepercayaan dunia internasional terhadap kapasitas Indonesia dalam menyelenggarakan forum berskala global.
"Penunjukan ICE BSD sebagai tuan rumah GSDC 2026 merupakan kehormatan sekaligus pengakuan terhadap standar operasional yang telah kami bangun selama bertahun-tahun. Kami ingin menghadirkan lebih dari sekadar venue, tetapi juga menjadi pusat kolaborasi global yang mendorong inovasi dan pertukaran pengetahuan," ujarnya.
Dari sisi ekonomi, penyelenggaraan event internasional diyakini mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect). Ribuan delegasi yang datang akan meningkatkan tingkat hunian hotel, penggunaan transportasi, konsumsi makanan dan minuman, hingga transaksi di sektor ritel dan jasa lainnya.
Selain mengejar pertumbuhan ekonomi, ICE BSD juga mengedepankan konsep penyelenggaraan acara yang berkelanjutan. Berbagai inisiatif telah diterapkan, mulai dari penggunaan pencahayaan alami, lampu LED hemat energi, sistem daur ulang air, hingga penyediaan stasiun pengisian kendaraan listrik (EV Charging Station).
Dalam penyelenggaraan GSDC 2026, ICE BSD bekerja sama dengan Rekosistem untuk menerapkan sistem pengelolaan sampah terpadu. Program tersebut mencakup penyediaan tempat sampah terpilah, edukasi kepada peserta, serta penggunaan Reverse Vending Machine (RVM) untuk meningkatkan pengumpulan material daur ulang.
Selama penyelenggaraan forum tersebut, sebanyak 1,62 ton sampah berhasil dikelola. Dari jumlah itu, tingkat pemulihan (recovery rate) mencapai 41 persen sehingga sampah tidak berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA), melainkan diproses kembali melalui sistem daur ulang.
Material yang paling banyak berhasil dipulihkan berasal dari plastik dan kertas. Upaya tersebut juga mampu menekan emisi karbon hingga 667,9 kilogram CO₂, setara dengan manfaat lingkungan dari penanaman sekitar 11 bibit pohon selama 10 tahun.
Menurut Siti Karmila, praktik keberlanjutan tersebut diharapkan menjadi standar baru dalam industri MICE nasional.
"Kami ingin membuktikan bahwa penyelenggaraan forum internasional dapat berjalan beriringan dengan tanggung jawab terhadap lingkungan. Harapannya, langkah ini dapat menginspirasi penyelenggara event lain untuk menerapkan konsep yang lebih berkelanjutan," katanya
(Taufik Fajar)