JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat 18 poin atau sekitar 0,10 persen ke level Rp18.091 per dolar AS pada akhir perdagangan Selasa (14/7/2026).
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa salah satu sentimen datang dari eksternal yakni Presiden Donald Trump akan memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap Iran setelah pertukaran militer yang diperbarui dengan Teheran. Trump juga mengatakan Washington akan memungut biaya 20 persen pada kargo yang melewati Selat Hormuz untuk menutupi biaya keamanan.
"Militer AS mengatakan akan mulai memberlakukan blokade mulai Selasa, menargetkan lalu lintas kapal yang terkait dengan Iran sambil mengizinkan pengiriman komersial netral untuk terus melewati jalur air tersebut," tulis Ibrahim dalam risetnya.
Investor tetap khawatir bahwa eskalasi militer lebih lanjut atau tindakan balasan dapat mengganggu aliran dari Teluk, yang dilalui oleh sekitar seperlima konsumsi minyak global, setelah Iran melancarkan serangan drone terhadap aset AS di Kuwait dan menyerang sebuah kapal di Selat Hormuz dengan rudal jelajah, sementara UEA melaporkan bahwa dua kapal tanker mereka diserang di perairan Oman.
Konflik yang kembali memanas ini terjadi setelah pertukaran serangan rudal dan drone antara pasukan AS dan Iran pada akhir pekan, yang secara efektif mengakhiri kesepahaman rapuh yang dicapai bulan lalu yang bertujuan untuk mengurangi ketegangan di sekitar Selat Hormuz.
Teheran telah memperingatkan bahwa aksi militer AS yang berkelanjutan dapat memicu serangan lebih lanjut yang memengaruhi infrastruktur energi regional.
Kenaikan harga minyak mentah berdampak pada pasar keuangan yang lebih luas, menekan pasar saham dan meningkatkan kekhawatiran inflasi karena investor menilai kembali potensi dampak kenaikan biaya energi terhadap pertumbuhan global dan kebijakan bank sentral.
Selain itu, Gubernur Federal Reserve (Fed) Christopher Waller, yang mengungkapkan bahwa jika Indeks Harga Konsumen (CPI) naik minggu ini, The Fed harus mempertimbangkan kenaikan suku bunga. Waller menyatakan bahwa angka inflasi inti yang tinggi "akan memaksa pertimbangan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat."
Meskipun bersikap hawkish, ia masih melihat kemungkinan inflasi mencapai target 2 persen tanpa kenaikan suku bunga dan menyatakan bahwa pasar tenaga kerja lebih dekat dengan target lapangan kerja maksimum The Fed.
Dari sentimen domestik, menurut Ibrahim pasar merespon positif setelah S&P Global Ratings memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 5 persen setiap tahunnya sampai dengan tiga tahun ke depan di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Lembaga pemeringkat ini mempertahankan peringkat kredit Indonesia dalam kategori layak investasi BBB dengan prospek tetap Stabil.
S&P menyampaikan bahwa peringkat kredit Indonesia bertahan di BB Bberkat prospek pertumbuhan ekonomi yang kuat. Hal ini terefleksikan dari pengaturan kebijakan ekonomi makro yang bijak, serta beban utang eksternal maupun pemerintah yang relatif lebih ringan dibandingkan dengan negara-negara berperingkat sesama BBB.
Pertumbuhan ekonomi ini didorong oleh belanja fiskal dan kebijakan penghiliran (hilirisasi), yang tidak lepas dari sentimen terhadap eksekusinya. S&P menilai kebijakan pemerintah terkait dengan hilirisasi dan penguatan kontrol terhadap sumber daya mineral berpotensi meningkatkan pertumbuhan penerimaan dan penghasilan ekspor.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia, meski tembus 5,6 persen pada kuartal I 2026, dinilai tetap dibarengi oleh gejolak pasar keuangan selama semester I 2026.
"Pasar saham yang paling mengalami tekanan akibat kehilangan lebih dari 30 persen kapitalisasi pasar. Belum lagi, nilai tukar rupiah juga turun sektar 7 persen terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada periode yang sama," kata Ibrahim.
Untuk tahun ini, S&P memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,1 persen sejalan dengan peluang moderasi pertumbuhan ekonomi di kuartal-kuartal berikutnya. Hal ini disebabkan oleh berlanjutnya ketidakpastian eksternal dan tingginya tingkat suku bunga dalam negeri.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp18.090-Rp18.140 per dolar AS.
(Taufik Fajar)