Perry Warjiyo menyatakan penguatan bauran kebijakan moneter dilakukan agar instrumen keuangan domestik tetap menarik di mata investor global, terutama di tengah meningkatnya tensi geopolitik dan potensi kenaikan suku bunga Amerika Serikat.
BI mencatat pada triwulan II 2026 investasi portofolio asing membukukan net inflows sebesar 8,5 miliar dolar AS. Arus dana tersebut terutama mengalir ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Memasuki triwulan III 2026, arus modal asing masih berlanjut. Hingga 20 Juli 2026, investasi asing di pasar SBN tercatat kembali mengalami net inflows sebesar 0,1 miliar dolar AS.
Bank sentral juga menaikkan imbal hasil SRBI untuk menarik lebih banyak investasi portofolio asing. Kebijakan tersebut mulai menunjukkan hasil. Kepemilikan investor non residen pada SRBI meningkat dari Rp238,09 triliun pada 15 Juni 2026 menjadi Rp288,65 triliun pada 20 Juli 2026, atau setara 27,11 persen dari total outstanding SRBI.
Tak hanya itu, BI juga memperluas instrumen operasi moneter valuta asing dengan menyediakan transaksi spot dan swap dalam valuta offshore Chinese Renminbi (CNH) terhadap rupiah. Langkah ini dilakukan seiring meningkatnya penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dan investasi dengan negara-negara mitra.
Perry menegaskan BI akan terus memperluas berbagai insentif untuk menjaga kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik.
"Bank Indonesia meyakini nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat, didukung komitmen Bank Indonesia melalui berbagai penguatan stabilitas nilai tukar rupiah, imbal hasil yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik," kata Perry.
(Taufik Fajar)