Ia juga mengibaratkan penerbitan obligasi seperti seseorang yang tetap melakukan pinjaman meski memiliki kemampuan finansial yang kuat.
"Banyak orang-orang kaya yang sebenarnya enggak perlu pinjam, tetapi tetap meminjam. Itu karena untuk membuat badannya lebih sehat," katanya.
Di sisi lain, Pramono menegaskan bahwa meski sempat terdampak pemotongan Dana Bagi Hasil (DBH) dari pemerintah pusat, kondisi keuangan DKI Jakarta tetap kuat.
Karena itu, obligasi daerah tersebut diterbitkan bukan untuk menutup defisit anggaran, melainkan sebagai alternatif pembiayaan pembangunan dan upaya memperkuat kesehatan fiskal daerah.
"Demikian juga dengan Jakarta, walaupun ada pemotongan DBH, kita melakukan creative financing supaya keuangan Jakarta itu jauh lebih sehat dan transparan terbuka," pungkas Pramono.
(Feby Novalius)