Ekosistem Ekonomi Hijau di Sektor Pertanian dan Industri Pengolahan Singkong

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis
Minggu 02 Agustus 2026 05:21 WIB
Ekosistem Ekonomi Hijau di Sektor Pertanian dan Industri Pengolahan Singkong (Foto: Kementan)
Share :

JAKARTA - Ekosistem ekonomi hijau di sektor pertanian dan industri pengolahan singkong di Indonesia dikembangkan. Investasi pada sektor pertanian dan industri pengolahan singkong dilakukan di Provinsi Lampung. 

Lampung dipilih sebagai lokasi awal implementasi karena memiliki ekosistem pertanian dan agroindustri yang dinilai sangat kuat. 

Sebagai produsen singkong terbesar di Indonesia dengan produksi sekitar 7,5 juta ton per tahun serta didukung industri pengolahan tepung tapioka yang menjadi salah satu tulang punggung ekonomi daerah, provinsi tersebut dinilai memiliki potensi besar menjadi proyek percontohan nasional pengembangan ekonomi hijau berbasis komoditas pertanian.

Program ini juga sejalan dengan implementasi Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement serta Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Instrumen Nilai Ekonomi Karbon yang mendorong pembangunan rendah karbon, perdagangan karbon, dan pembiayaan iklim di Indonesia.

Vice President & Indonesia Regional Head PT ESGIN Global Partners Yayang Ruzaldy mengatakan, ESGIN tidak hanya berperan sebagai pengembang proyek karbon, tetapi juga sebagai investor yang membangun infrastruktur ekonomi hijau secara menyeluruh.

Menurutnya, Lampung memiliki seluruh fondasi untuk menjadi pusat green economy berbasis pertanian di Indonesia. Pihaknya berkomitmen untuk berinvestasi pada proyek-proyek strategis yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus manfaat lingkungan, mulai dari Climate Smart Agriculture, Biochar, hingga Methane Removal Project pada industri pengolahan tepung tapioka.

"Melalui integrasi investasi, Digital MRV, Artificial Intelligence, blockchain, Green Finance, dan Carbon Market, kami ingin menciptakan model pembangunan yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani, memperkuat daya saing industri, dan mendukung pencapaian target Net Zero Emission Indonesia,” ungkap Yayang dalam keterangannya, Jakarta, Sabtu (1/8/2026).

Menurut Yayang, kolaborasi tersebut menjadi contoh nyata bagaimana investasi hijau mampu menghubungkan sektor pertanian, industri, teknologi, dan pembiayaan dalam satu ekosistem ekonomi yang berkelanjutan.

Sebagai tindak lanjut dari nota kesepahaman, para pihak akan memulai penyusunan Feasibility Study, identifikasi lokasi proyek prioritas, penyusunan dokumen proyek karbon, implementasi Digital MRV, serta pengembangan skema pembiayaan hijau guna mempercepat realisasi investasi.

Kerja sama ini diharapkan menjadi model nasional pengembangan green project pada sektor pertanian dan agroindustri yang mampu menghasilkan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara bersamaan, sekaligus memperkuat posisi Lampung sebagai pelopor implementasi nilai ekonomi karbon di Indonesia.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya