JAKARTA - Ekosistem ekonomi hijau di sektor pertanian dan industri pengolahan singkong di Indonesia dikembangkan. Investasi pada sektor pertanian dan industri pengolahan singkong dilakukan di Provinsi Lampung.
Lampung dipilih sebagai lokasi awal implementasi karena memiliki ekosistem pertanian dan agroindustri yang dinilai sangat kuat.
Sebagai produsen singkong terbesar di Indonesia dengan produksi sekitar 7,5 juta ton per tahun serta didukung industri pengolahan tepung tapioka yang menjadi salah satu tulang punggung ekonomi daerah, provinsi tersebut dinilai memiliki potensi besar menjadi proyek percontohan nasional pengembangan ekonomi hijau berbasis komoditas pertanian.
Program ini juga sejalan dengan implementasi Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement serta Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Instrumen Nilai Ekonomi Karbon yang mendorong pembangunan rendah karbon, perdagangan karbon, dan pembiayaan iklim di Indonesia.
Vice President & Indonesia Regional Head PT ESGIN Global Partners Yayang Ruzaldy mengatakan, ESGIN tidak hanya berperan sebagai pengembang proyek karbon, tetapi juga sebagai investor yang membangun infrastruktur ekonomi hijau secara menyeluruh.
Menurutnya, Lampung memiliki seluruh fondasi untuk menjadi pusat green economy berbasis pertanian di Indonesia. Pihaknya berkomitmen untuk berinvestasi pada proyek-proyek strategis yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus manfaat lingkungan, mulai dari Climate Smart Agriculture, Biochar, hingga Methane Removal Project pada industri pengolahan tepung tapioka.
"Melalui integrasi investasi, Digital MRV, Artificial Intelligence, blockchain, Green Finance, dan Carbon Market, kami ingin menciptakan model pembangunan yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani, memperkuat daya saing industri, dan mendukung pencapaian target Net Zero Emission Indonesia,” ungkap Yayang dalam keterangannya, Jakarta, Sabtu (1/8/2026).
Menurut Yayang, kolaborasi tersebut menjadi contoh nyata bagaimana investasi hijau mampu menghubungkan sektor pertanian, industri, teknologi, dan pembiayaan dalam satu ekosistem ekonomi yang berkelanjutan.
Sebagai tindak lanjut dari nota kesepahaman, para pihak akan memulai penyusunan Feasibility Study, identifikasi lokasi proyek prioritas, penyusunan dokumen proyek karbon, implementasi Digital MRV, serta pengembangan skema pembiayaan hijau guna mempercepat realisasi investasi.
Kerja sama ini diharapkan menjadi model nasional pengembangan green project pada sektor pertanian dan agroindustri yang mampu menghasilkan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara bersamaan, sekaligus memperkuat posisi Lampung sebagai pelopor implementasi nilai ekonomi karbon di Indonesia.
Sekadar informasi, ESGIN Global Partners melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) bersama Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPD HKTI) Provinsi Lampung dan Perhimpunan Pengusaha Tepung Tapioka Indonesia (PPTTI) mengenai pengembangan Green Economy Ecosystem pada sektor pertanian dan industri pengolahan singkong.
Kolaborasi tersebut menjadi langkah strategis untuk membangun ekosistem ekonomi hijau yang menghubungkan sektor pertanian, industri pengolahan, investasi, teknologi digital, hingga pasar karbon dalam satu rantai nilai yang terintegrasi.
Pada tahap awal, investasi akan difokuskan pada dua sektor utama di Provinsi Lampung.
Di sektor pertanian, ESGIN bersama HKTI Provinsi Lampung akan mendorong penerapan Climate Smart Agriculture (CSA), Biochar for Climate-Smart Agriculture, serta Alternate Wetting and Drying (AWD) di lahan sawah.
Program tersebut ditujukan untuk meningkatkan produktivitas pertanian, memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim, meningkatkan kesehatan tanah, mengurangi emisi gas rumah kaca, sekaligus membuka peluang pendapatan baru melalui mekanisme Nilai Ekonomi Karbon.
Sementara di sektor industri, ESGIN bersama PPTTI akan mengembangkan Methane Removal Project pada pabrik-pabrik pengolahan tepung tapioka melalui teknologi methane capture yang mengubah limbah cair menjadi biogas sebagai energi terbarukan. Selain menekan emisi metana yang memiliki potensi pemanasan global tinggi, proyek tersebut juga berpotensi menghasilkan kredit karbon sebagai sumber pendapatan baru bagi industri.
Seluruh proyek akan didukung implementasi Digital MRV berbasis Artificial Intelligence (AI), citra satelit resolusi tinggi, Internet of Things (IoT), drone, dashboard digital, serta teknologi blockchain guna memastikan transparansi, akurasi, dan kredibilitas pengukuran emisi sesuai standar nasional maupun internasional.
(Dani Jumadil Akhir)