Fokus utama investor tertuju pada rilis data neraca perdagangan Indonesia yang diproyeksikan kembali mengalami defisit sekitar USD 0,8 miliar. Realisasi angka tersebut dicermati pasar karena dapat mengindikasikan besarnya tekanan pada kinerja sektor eksternal nasional di tengah dinamika ekonomi global.
Selain neraca perdagangan, pelaku pasar juga menantikan rilis data inflasi tahunan (year-on-year/YoY) yang diperkirakan melandai ke level 3,2 persen. Tren penurunan inflasi ini dinilai dapat memberikan ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan arah kebijakan moneter yang mendukung pertumbuhan ekonomi.
"Apabila data lebih baik dari perkiraan, bisa mendukung baik rupiah dan IHSG," katanya.
Dari sentimen global, perhatian investor masih tertuju pada prospek kebijakan suku bunga The Fed. Rangkaian data ekonomi AS yang menunjukkan tanda-tanda perlambatan aktivitas ekonomi memicu spekulasi bahwa bank sentral AS tersebut berpotensi melonggarkan kebijakan moneternya dalam beberapa bulan mendatang.
(Dani Jumadil Akhir)