JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor Indonesia di Juni 2026 mencapai USD25,46 miliar atau naik sebesar 8,84 persen dibandingkan dengan Juni tahun 2025..
Sedangkan untuk ekspor migas tercatat USD1,07 miliar atau turun 4,25 persen. Untuk ekspor non migas naik 9,46 persen dengan nilai USD24,39 miliar secara yoy.
“Kenaikan nilai ekspor Juni 2026 secara tahunan terutama didorong oleh kenaikan nilai ekspor non-migas yaitu pada beberapa komoditas. Pertama, bahan bakal mineral atau HS27 nilainya naik 49,67 persen. Demikian juga untuk volumenya, naik 15,34 persen,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono di Jakarta, Senin (3/8/2026).
Kemudian yang kedua, nikel dan barang daripadanya atau HS75 nilainya naik 69,30 persen. Sedangkan volumenya justru mengalami penurunan sebesar 12,14 persen.
Untuk lemak dan minyak hewani nabati atau HS15 nilainya naik sebesar 10,45 persen sedangkan volumenya turun sebesar 7,09 persen.
BPS juga melaporkan nilai ekspor Indonesia pada periode Januari hingga Juni 2026 mencapai USD140,81 miliar. Ateng mengatakan, nilai ekspor Juni 2026 ini naik 4,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Untuk ekspor, sepanjang Januari sampai dengan Juni tahun 2026, total ekspor mencapai USD140,81 miliar atau naik sebesar 4,13 persen jika dibandingkan periode yang sama di tahun yang lalu," kata Ateng.
Untuk nilai ekspor migas tercatat USD6,23 miliar atau turun sebesar 10,19 persen. Sementara itu, nilai ekspor non migas tercatat naik 4,90 persen senilai USD134,58 miliar.
"Peningkatan ekspor non-migas tersebut terutama pada nikel dan barang dari padanya atau HS75, lemak dan minyak hewan atau nabati HS15, dan juga bahan bakar mineral atau HS72," ungkap Ateng.