"Tujuan utamanya adalah membantu investor dalam proses pengambilan keputusan. AI dapat memberikan analisis, tetapi pengguna tetap menjadi pihak yang menentukan tindakan investasi," katanya.
Dalam penerapannya, sistem tersebut menggunakan mekanisme konfirmasi sebelum transaksi dilakukan. AI memberikan usulan berdasarkan instruksi pengguna, kemudian transaksi hanya dapat dijalankan setelah mendapat persetujuan.
Berbeda dengan sistem robot trading otomatis, teknologi ini tidak melakukan transaksi secara mandiri dan tidak memberikan jaminan keuntungan. Investor tetap perlu melakukan riset tambahan serta memahami risiko dari setiap keputusan investasi.
Selain itu, Co-Founder Pluang Claudia Kolonas mengatakan, tantangan utama dalam pengembangan teknologi AI untuk investasi adalah memastikan sistem keamanan tetap berjalan ketika teknologi tersebut digunakan untuk membantu aktivitas transaksi.
"Tantangan terbesarnya bukan hanya bagaimana membuat AI bisa memasang order, melainkan bagaimana membangun sistem pengaman agar AI tidak melakukan transaksi yang salah atau tanpa izin," jelas Claudia.