Sementara dari segi data ekonomi, Indeks Manajer Pembelian Manufaktur (PMI) pada bulan Juli meningkat dari 53,3 menjadi 55,6, melampaui perkiraan 54. Laporan tersebut menunjukkan permintaan yang berkelanjutan, kejelasan tentang tarif, dan hilangnya gangguan pasokan terkait Perang Teluk, yang meningkatkan permintaan di pasar kerja.
"Fokus pasar hari ini adalah oleh laporan Lowongan Kerja JOLTS yang akan dirilis nanti malam pukul 21.00 WIB, dengan fokus pasar minggu ini adalah Data Ketenagakerjaan Non-Pertanian (NFP) yang akan dirilis pada hari Jumat," imbuh Ibrahim.
Dari sentimen dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2026 defisit USD450 juta. Defisit pada Juni 2026 terutama disebabkan oleh defisit pada komoditas migas, yaitu defisit sebesar USD3,49 miliar dengan komoditas utama penyumbang defisit pada migas yaitu hasil minyak dan juga minyak mentah.
Defisit terjadi karena kinerja ekspor yang tercatat USD25,46 miliar lebih rendah dibandingkan impor yang tercatat sebesar USD25,91 miliar per Juni 2026.
Sementara itu, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 berada di level USD145 miliar, turunnya cadangan devisa disebabkan oleh keperluan stabilitas nilai tukar rupiah dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Posisi cadangan devisa ini turun dari posisi tertingginya, yakni USD156,5 miliar pada akhir Desember 2025. Ini artinya cadangan devisa RI telah turun hingga mencapai USD11 miliar. Menurutnya, level USD145 miliar masih aman.
Angka ini aman karena cadangan devisa ini masih mencukupi untuk kebutuhan 5,4 kali impor. Sementara itu, batasan yang menjadi benchmark internasional adalah kecukupan cadangan devisa untuk 3 bulan impor dan pembayaran utang.
Sikap hati-hati juga masih mewarnai pasar menjelang rilis data PDB kuartal kedua pada hari Rabu, mengingat pasar mengantisipasi pertumbuhan yang lebih lambat dibandingkan lonjakan 5,6 persen pada kuartal sebelumnya.
Pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 akan melambat, diperkirakan berada di bawah 5,6 persen namun tidak jauh dari 5,4 persen.
Perlambatan ekonomi disebabkan oleh tekanan eksternal seperti harga minyak mentah yang tinggi, eskalasi geopolitik, dan capital outflow dari pasar keuangan domestik. Pemerintah berencana mengeluarkan paket stimulus baru, termasuk insentif untuk kendaraan bermotor listrik berbasis baterai, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di semester II 2026.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp18.030-Rp18.080 per dolar AS.
(Taufik Fajar)