Dari sentimen dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29% secara tahunan (year on year/YoY) pada kuartal II/2026. Sedangkan berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal II/2026 atas dasar harga berlaku sebesar Rp6.552,1 triliun dan atas dasar harga konstan senilai Rp3.576,2 triliun.
Sehingga pertumbuhan ekonomi pada triwulan II/2026 bila dibandingkan dengan triwulan I/2025 atau secara year on year tumbuh 5,29%. Bila dibandingkan dengan triwulan I/2026 atau secara Q-to-Q, ekonomi tumbuh sebesar 3,73% dan bila dibandingkan dengan semester I/2025 atau secara C-to-C, PDB tumbuh sebesar 5,45%.
Data pertumbuhan ekonomu kuartal II yang di rilis BPS, berbanding terbalik dengan para ekonom yang memprediksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2026 akan berada antara 4,8% sampai 4,9%. Proyeksi itu jauh lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi periode sebelumnya atau kuartal I/2026 yang capai 5,61%. Perlambatan ini dipicu tekanan dari tingginya biaya produksi akibat gejolak global, pengetatan kebijakan moneter, hingga ketidakpastian tata kelola fiskal di dalam negeri.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami deflasi bulanan sebesar 0,14% pada Juli 2026, melandai dari bulan sebelumnya. Meskipun inflasi tahunan berada di tingkat 2,88% dan sektor pendidikan menghadapi tekanan musiman tahun ajaran baru, penurunan harga pangan memberikan penyeimbang bagi pengeluaran jangka pendek.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.930-Rp17.980 per dolar AS.
(Taufik Fajar)