Untuk meningkatkan akurasi pemantauan harga, Bapanas meminta pemerintah daerah membedakan pencatatan bawang putih jenis honan atau bonggol dengan jenis kating. Menurut Hermawan, kedua jenis bawang putih tersebut memiliki karakteristik dan tingkat harga yang berbeda sehingga tidak dapat disamakan dalam pelaporan.
Sebagai tindak lanjut, Bapanas meminta BUMN Pangan melakukan intervensi distribusi dan pasokan, terutama di wilayah yang harga bawang putihnya masih berada di atas harga acuan. Pemerintah daerah juga didorong melakukan intervensi yang tepat sasaran sesuai kondisi pasokan di lapangan.
Selain membahas bawang putih, Bapanas turut mencermati perkembangan harga sejumlah komoditas pangan strategis di tingkat produsen. Gabah kering panen tercatat mencapai Rp7.029 per kilogram atau 8,14 persen di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP), sedangkan beras medium di tingkat penggilingan mencapai Rp13.224 per kilogram atau 10,20 persen di atas Harga Acuan Penjualan (HAP). Harga cabai rawit juga masih relatif tinggi, yakni Rp34.594 per kilogram.
"Kondisi kenaikan harga gabah dan beras di tingkat penggilingan ini harus terus dicermati agar tidak berlanjut menjadi tekanan harga beras di tingkat konsumen. Begitu pula pasokan dan distribusi cabai rawit perlu terus dipantau, terutama di wilayah yang mencatat harga tinggi," ujarnya.
Di sisi lain, sejumlah komoditas justru memerlukan perlindungan harga di tingkat produsen. Bawang merah tercatat hanya Rp21.525 per kilogram, jauh di bawah harga yang layak. Harga sapi hidup berada di kisaran Rp56.341 per kilogram, dan ayam ras pedaging hidup sekitar Rp23.486 per kilogram.
Perhatian khusus, kata Hermawan, perlu diberikan pada harga telur ayam ras di tingkat produsen yang tercatat Rp23.237 per kilogram, atau 12,31 persen di bawah harga acuan sebesar Rp26.500 per kilogram.
"Pengendalian inflasi tidak boleh hanya berorientasi pada harga murah. Harga yang terlalu rendah dapat merugikan petani dan peternak, mengurangi kemampuan produksi, dan pada akhirnya berpotensi menimbulkan kekurangan pasokan pada periode berikutnya," tegas Hermawan.
(Taufik Fajar)