Teknologi Menjaga Batu Hijau: Setiap Ton Bijih untuk Masa Depan

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis
Rabu 12 Agustus 2026 14:43 WIB
Teknologi Menjaga Batu Hijau: Setiap Ton Bijih untuk Masa Depan (Foto: Amman)
Share :

JAKARTA - Hampir 100.000 ton bijih hasil penambangan bergerak setiap hari di tambang Batu Hijau. Batuan hasil penambangan itu melaju di atas conveyor menuju SAG Mill, mesin raksasa yang menggilingnya menjadi material lebih halus sebelum mineral berharga dipisahkan dan diolah.

Di tengah arus material sebesar itu, sebuah batu berukuran ekstrem bisa menjadi masalah. Material asing non-batuan yang ikut terbawa dapat mengganggu proses. Perubahan kondisi operasi yang terjadi dalam hitungan menit dapat memengaruhi hasil pengolahan. Bahkan sedikit mineral berharga yang luput dipulihkan memiliki arti ketika terjadi berulang pada skala sebesar itu.

Karena itu, semuanya harus diketahui sedini mungkin. Di pertambangan modern, persoalannya bukan lagi sekadar bagaimana mengambil mineral dari bumi, tetapi bagaimana memaksimalkan setiap ton yang diambil.

Pertanyaannya jauh lebih besar: bagaimana mengambilnya seefisien mungkin, seaman mungkin, dengan dampak sekecil mungkin, dan menghasilkan manfaat sebesar mungkin bagi manusia serta lingkungan?

Di Batu Hijau, Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), jawaban atas pertanyaan itu tidak hanya ditemukan di kedalaman tambang, tetapi juga di ruang kendali, jalur conveyor, laboratorium, area reklamasi hingga fasilitas pengolahan. 

Semuanya bertemu pada satu hal: teknologi yang membuat operasi lebih cerdas sekaligus lebih bertanggung jawab.

Kecerdasan buatan membaca jutaan data operasional, laser tiga dimensi memindai material yang bergerak di atas conveyor, citra satelit membantu membaca perubahan lahan, panel surya menghasilkan energi dengan emisi lebih rendah hingga reklamasi mengembalikan fungsi lahan. Sementara smelter membawa mineral dari tambang menuju produk bernilai tambah di dalam negeri.

Namun ada satu hal yang membuat perjalanan teknologi itu penting: teknologi tidak bekerja sendirian. Di belakang setiap algoritma ada manusia. 

Di balik setiap sensor ada pengalaman, dan di balik setiap inovasi ada tanggung jawab untuk memastikan sumber daya yang diambil hari ini tidak meninggalkan beban bagi hari esok.

Itulah wajah baru pertambangan yang sedang dibangun PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN).

Ketika Jutaan Data Membaca Batu

Setiap ton bijih membawa mineral berharga. Tetapi tidak seluruh mineral itu otomatis dapat dipulihkan.

Bagi operasi pertambangan berskala besar seperti Batu Hijau, peningkatan kecil dalam tingkat perolehan mineral dapat memiliki arti besar. Semakin banyak mineral berharga yang berhasil dipulihkan, semakin optimal sumber daya alam dimanfaatkan dan semakin sedikit yang tertinggal dalam limbah.

Tantangannya: bagaimana membuat pabrik mengambil keputusan terbaik ketika kondisi operasi terus berubah? Jawabannya datang dari data.

Lebih dari 25 tahun pengalaman operasional menjadi fondasi pengembangan Artificial Intelligence Dashboard Automation (AIDA), sistem pendukung keputusan berbasis kecerdasan buatan yang dikembangkan AMMAN untuk membantu mengoptimalkan proses pengolahan mineral di pabrik pengolahan (processing plant).

AIDA memanfaatkan jutaan titik data historis dan data waktu nyata. Sistem membaca kondisi pabrik secara terus-menerus, kemudian memberikan rekomendasi parameter operasi yang dinilai paling optimal.

Salah satu fitur pentingnya adalah Set Point Optimizer. Sistem memberikan rekomendasi terhadap variabel proses kritis, antara lain dosis reagen dan laju aliran air.

Dengan cara itu, operator tidak harus berhadapan dengan ribuan variabel secara manual untuk menentukan penyesuaian yang diperlukan.

Tetapi AMMAN tidak menyerahkan keputusan kepada mesin. Setiap empat jam, tim operasional dan metalurgi meninjau rekomendasi AIDA. Data dari algoritma dipertemukan dengan pengalaman manusia sebelum keputusan diterapkan di lapangan.

Di sinilah teknologi menemukan batas sekaligus kekuatannya. AI dapat membaca pola, manusia memahami konteks. AI dapat memberikan rekomendasi dan manusia tetap bertanggung jawab atas keputusan.

Vice President Corporate Communications AMMAN Kartika Octaviana mengatakan, pengembangan AIDA merupakan bagian dari transformasi digital perusahaan dalam membangun operasi pertambangan yang semakin cerdas, efisien, dan berkelanjutan.

Melalui transformasi digital, AMMAN tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga memperkuat komitmen terhadap konservasi sumber daya mineral. Keberhasilan inisiatif ini bukan hanya terletak pada teknologinya, melainkan pada sinergi antara data, inovasi, dan keahlian tim kami. 

"Ketika teknologi dan pengalaman manusia berjalan beriringan, kami mampu menghasilkan keputusan yang lebih baik dan menciptakan nilai yang lebih besar," kata Kartika di Jakarta belum lama ini.

Hasilnya bukan sekadar angka di layar. Dengan menggabungkan peningkatan proses dan optimasi berbasis AI, AMMAN berhasil meningkatkan perolehan mineral sekitar 2,5 persen.

Bagi operasi yang tingkat perolehannya telah termasuk tinggi di industri, tambahan tersebut bukan angka kecil. Ada mineral yang sebelumnya berpotensi hilang, kini dapat dimanfaatkan.

Di titik itu, kecerdasan buatan bukan lagi sekadar simbol transformasi digital. Ia menjadi cara baru untuk menghargai setiap ton batu yang diambil dari bumi.

Teknologi Menjaga Batu Hijau: Setiap Ton Bijih untuk Masa Depan
 

Melihat Sebelum Masalah Terjadi

Tetapi data bukan satu-satunya cara teknologi membantu Batu Hijau. Di jalur conveyor menuju SAG Mill, material tambang bergerak tanpa henti. 

Bersamaan dengan bijih, terkadang objek berukuran ekstrem (oversize objects) atau material asing non-batuan yang ikut terbawa dari area tambang. Jika luput terdeteksi, benda tersebut berpotensi mengganggu aliran material dan proses pengolahan. 

Sebelumnya, pengawasan mengandalkan kamera dua dimensi. Metode ini membantu, tetapi memiliki keterbatasan. Perubahan pencahayaan, warna, dan tekstur material dapat membuat objek tertentu lebih sulit dibedakan.

Tim Metallurgi AMMAN kemudian mencari cara untuk melihat material dengan lebih presisi. Mereka mengembangkan penerapan 3D Particle Size Measurement (3DPM) berbasis laser triangulation.

Berbeda dengan kamera biasa yang menangkap gambar dua dimensi, sistem tersebut melakukan pemindaian tiga dimensi secara real time. Bentuk, ukuran, dan volume objek dapat dibaca dengan lebih akurat. Material yang berpotensi mengganggu proses dapat diketahui lebih awal. 

Beberapa detik atau menit tambahan untuk bertindak bisa sangat berarti. Bagi operator, tambahan waktu itu berarti kesempatan mencegah masalah dan menjaga keandalan proses.

“Implementasi teknologi 3DPM menunjukkan bagaimana inovasi dapat lahir dari kebutuhan nyata di lapangan. Kami tidak hanya mengadopsi teknologi baru, tetapi juga mengembangkannya agar sesuai dengan kondisi operasional kami. Hasilnya adalah proses yang lebih andal, efisien, dan mampu mendukung pengelolaan risiko operasional yang lebih baik,” ujar Victor dari tim Metallurgi AMMAN.

Dari Batu Menjadi Nilai Tambah

Perjalanan inovasi AMMAN tidak berhenti ketika mineral keluar dari tambang. Di Sumbawa Barat, mineral itu memasuki babak lain: hilirisasi.

Pada 18 Juli 2026, AMMAN dan China Nonferrous Metal Industry's Foreign Engineering and Construction Co., Ltd. (NFC) menandatangani Project Acceptance Certificate (PAC) di Beijing, Tiongkok.

Penandatanganan itu menandai penyelesaian seluruh poin penting konstruksi dan pengoperasian dalam lingkup kontrak, sekaligus keberhasilan fasilitas melewati uji jaminan kinerja.

Pabrik peleburan tembaga AMMAN telah beroperasi lebih dari satu tahun. Dengan pencapaian tersebut, fasilitas memasuki fase operasional jangka panjang.

Sebagai Proyek Strategis Nasional, fasilitas peleburan itu dirancang mengolah hingga 900.000 metrik ton konsentrat per tahun yang bersumber dari tambang Batu Hijau dan, pada masa mendatang, Elang.

Dari kompleks terintegrasi tersebut dihasilkan katoda tembaga berkadar kemurnian tinggi, emas, perak, asam sulfat, dan selenium.

Di sinilah perjalanan sebuah batu berubah. Mineral yang sebelumnya berhenti pada konsentrat kini memiliki perjalanan yang lebih panjang. Menjadi bahan baku. Menjadi produk. Menjadi bagian dari rantai industri. Dan pada akhirnya, menjadi nilai tambah yang lebih besar di dalam negeri.

Presiden Direktur AMMAN Arief Sidarto mengatakan, penyelesaian proyek ini merupakan hasil dari dedikasi dan kolaborasi berbagai pihak dalam mewujudkan salah satu kompleks smelter tembaga dan pemurnian logam mulia terintegrasi paling canggih di dunia. 

Dia menambahkan, rampungnya proyek smelter ini merupakan pencapaian penting bagi AMMAN. Di baliknya terdapat kerja keras, ketangguhan, dan kolaborasi yang kuat dari seluruh karyawan serta para mitra dalam menghadapi berbagai tantangan selama proses pembangunan dan komisioning. 

"Beroperasinya smelter ini menegaskan komitmen kami untuk mendukung agenda hilirisasi nasional. Ke depan, kami berharap ekosistem kebijakan yang mendukung daya saing industri pengolahan dan pertambangan dalam negeri dapat terus diperkuat agar Indonesia mampu memaksimalkan manfaat hilirisasi dan tetap kompetitif di tengah dinamika global,” ujar Arief.

Dengan hilirisasi, makna inovasi menjadi semakin luas. Inovasi bukan hanya tentang bagaimana menambang. Tetapi juga bagaimana mineral diproses, dimanfaatkan, dan menciptakan nilai lebih besar di negeri sendiri.

Teknologi Menjaga Batu Hijau: Setiap Ton Bijih untuk Masa Depan
 

Teknologi Tidak Berhenti di Pabrik

Pertambangan tidak hanya memiliki persoalan di dalam pabrik. Ada persoalan yang jauh lebih luas di luar area operasi: bagaimana menjaga lingkungan tempat operasi berlangsung.

Bagi Jorina Waworuntu, Head of Environment Department AMMAN, lingkungan bukan sekadar istilah dalam laporan perusahaan.

Lingkungan adalah air yang digunakan manusia. Udara yang dihirup. Tanah tempat tumbuhan tumbuh. Dan ruang hidup masyarakat di sekitar operasi.

“Lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Yang membuat suatu sistem berfungsi adalah orang-orang yang memiliki komitmen dan konsistensi,” katanya.

Karena itu, pengelolaan lingkungan tidak berhenti pada kepatuhan. Kepatuhan terhadap regulasi menjadi fondasi, tetapi kemudian diperkuat melalui perencanaan, pembangunan infrastruktur, pemantauan, pelatihan, serta pengembangan kompetensi manusia. Salah satu wujudnya adalah reklamasi. 

Hingga akhir 2025, AMMAN telah mereklamasi 859,61 hektare lahan, termasuk capaian reklamasi tahunan terbesar dalam sejarah Batu Hijau pada 2025 seluas 92,67 hektare. 

AMMAN juga terus memperkuat transisi menuju energi yang lebih bersih. Sejak 2022, PLTS berkapasitas 26,8 MWp telah beroperasi dan sepanjang 2025 membantu menghindari emisi sekitar 34.794 ton CO₂e. 

Selain energi, pengelolaan air menjadi perhatian penting. Untuk memperkuat ketahanan terhadap musim kemarau, AMMAN membangun fasilitas desalinasi di Benete dan Sejorong serta mengoptimalkan pemanfaatan kembali air dalam operasional. 

Sementara itu, pemanfaatan citra satelit membantu perusahaan memantau perubahan kondisi lahan secara lebih cepat sehingga pengelolaan lingkungan dapat dilakukan secara lebih akurat dan berbasis data.

Teknologi kembali menempati posisinya sebagai alat. Bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk menggunakan sumber daya secara lebih bijak dan mengurangi jejak operasi.

Nilai yang Mengalir Melewati Pagar Tambang

Lalu, sejauh mana semua aktivitas itu memberikan dampak kepada masyarakat? 

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mencoba mengukurnya.

Dalam kajian Analisis Dampak Makroekonomi dan Sosial Ekonomi PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), LPEM FEB UI menganalisis kontribusi aktivitas pertambangan, pembangunan smelter, serta program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) AMMAN sepanjang 2018-2024.

Dengan pendekatan Inter-Regional Input-Output (IRIO), kajian tersebut melihat dampak langsung sekaligus efek berganda yang muncul melalui pemasok, kontraktor, pekerja, sektor jasa, logistik, dan berbagai aktivitas ekonomi lainnya.

Hasilnya menunjukkan kontribusi AMMAN terhadap pembentukan PDB nasional mencapai Rp173,4 triliun selama periode kajian, atau rata-rata Rp24,8 triliun per tahun.

Pendapatan rumah tangga yang tercipta mencapai Rp67,6 triliun. Aktivitas tersebut juga berkontribusi terhadap penurunan tingkat kemiskinan nasional sebesar 0,024 hingga 0,098 poin persentase, setara sekitar 80.000 hingga 206.000 orang.

Tingkat pengangguran nasional diperkirakan turun 0,012 hingga 0,069 poin persentase, atau sekitar 29.000 hingga 90.000 orang.

Dalam ketenagakerjaan, aktivitas AMMAN rata-rata menghasilkan sekitar 55.000 lapangan kerja per tahun secara nasional. Pada 2024, jumlah kesempatan kerja yang tercipta mencapai lebih dari 105.000.

“Kontribusi AMMAN tidak hanya terlihat pada angka-angka makro, tetapi juga pada tingkat rumah tangga dan komunitas. Kegiatan operasional AMMAN menciptakan rangkaian efek berganda yang luas,” ujar Kepala Kajian Natural Resources and Energy Studies LPEM FEB UI Uka Wikarya.

Dampak itu tidak selalu terlihat dari kejauhan. Ketika ribuan pekerja membutuhkan makanan, ada petani dan peternak yang memperoleh pasar. Ketika operasi membutuhkan logistik, ada usaha dan pekerja yang ikut bergerak. Ketika industri tumbuh, rantai pasok ikut berkembang.

Dengan kata lain, aktivitas pertambangan tidak berhenti di pagar perusahaan. Nilainya mengalir ke dalam ekonomi masyarakat.

Angka-angka itu memperlihatkan bahwa nilai sebuah tambang tidak hanya berada di dalam lubang tambang. Nilainya juga berada di sepanjang rantai ekonomi yang tercipta sesudahnya.

Teknologi Menjaga Batu Hijau: Setiap Ton Bijih untuk Masa Depan
 

Teknologi Membutuhkan Kepercayaan

Namun keberlanjutan memiliki satu unsur yang tidak dapat diselesaikan oleh algoritma, yaitu kepercayaan. Pada 31 Juli 2026, AMMAN kembali menggelar forum keterlibatan masyarakat di Sumbawa Barat.

Forum tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi langsung mengenai perkembangan operasi peleburan sekaligus memperkuat komunikasi dengan perusahaan.

Keselamatan operasi, kepatuhan terhadap regulasi, dan pemantauan lingkungan menjadi bagian dari dialog. Bagi AMMAN, komunikasi seperti ini bukan pelengkap. Ia adalah bagian dari keberlanjutan.

“Forum komunikasi ini menjadi bagian dari komitmen AMMAN untuk terus membangun komunikasi yang terbuka dengan masyarakat. Bagi kami, dialog yang berkelanjutan menjadi fondasi penting dalam mendukung operasional smelter yang aman dan bertanggung jawab agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi ekonomi daerah dalam jangka panjang,” kata Vice President Corporate Communications AMMAN Kartika Octaviana.

Sebab secanggih apa pun teknologi yang digunakan, operasi pertambangan tetap berlangsung di tengah ruang hidup manusia. Dan ruang hidup membutuhkan komunikasi. Membutuhkan keterbukaan. Membutuhkan kepercayaan.

Batu Hijau dan Masa Depan yang Lebih Cerdas

Pada akhirnya, cerita tentang inovasi AMMAN bukanlah cerita tentang mesin. Bukan pula sekadar cerita tentang AI, laser, satelit, panel surya, atau smelter.

Ini adalah cerita tentang bagaimana manusia menggunakan teknologi untuk menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

AI membantu membaca jutaan data agar mineral dapat dipulihkan lebih optimal. Laser membantu melihat material yang sulit dibedakan oleh mata.

Data satelit membantu membaca perubahan lingkungan. PLTS membantu mengurangi emisi. Reklamasi membantu mengembalikan fungsi lahan. Smelter mengubah konsentrat menjadi produk bernilai tambah.

Dan forum masyarakat memastikan operasi tidak berjalan tanpa komunikasi dengan lingkungan sosial di sekitarnya.

Semua teknologi itu memiliki satu kesamaan: memberi manusia kemampuan untuk mengambil keputusan yang lebih baik.

Di Batu Hijau, keputusan tersebut pada akhirnya kembali pada satu pertanyaan mendasar: Bagaimana mengambil kekayaan alam tanpa mengabaikan masa depan? Jawabannya tidak sederhana.

Tetapi perjalanan AMMAN menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi salah satu jalannya. Sebab pertambangan masa depan tidak cukup hanya lebih produktif. Ia harus lebih aman, lebih efisien, lebih peduli terhadap lingkungan dan lebih besar manfaatnya bagi masyarakat.

Dari Sumbawa Barat, perjalanan itu sedang berlangsung. Batu tetap digali, mineral tetap diolah, industri tetap bergerak tetapi cara manusia mengelolanya terus berubah.

Dari sekadar mengambil mineral dari bumi, menjadi upaya untuk memahami setiap tonnya, memaksimalkan nilainya, mengurangi jejaknya dan memperluas manfaatnya.

Teknologi Menjaga Batu Hijau: Setiap Ton Bijih untuk Masa Depan


 

(Dani Jumadil Akhir)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya