JAKARTA - Risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia meningkat seiring kondisi musim kemarau, terutama ketika curah hujan rendah dan kondisi lahan semakin kering. Karena itu, upaya pencegahan dinilai perlu memperkuat pengendalian aktivitas manusia sekaligus mengantisipasi pengaruh kondisi cuaca dan iklim.
Pakar Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) sekaligus Dosen Geografi Universitas Indonesia, Asep Karsidi, mengatakan kondisi kemarau pada Agustus 2026 semakin intensif. Berdasarkan evaluasi analisis BMKG dan NOAA, sebanyak 76,5% zona musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau, sedangkan curah hujan rendah mendominasi 90,79% wilayah.
“Indonesia menghadapi kombinasi musim kemarau aktif, El Nino sangat kuat, dan kecenderungan Indian Ocean Dipole positif. Kondisi ini mengurangi pembentukan awan dan hujan sehingga vegetasi serta lahan gambut lebih mudah terbakar,” kata Asep, Rabu (26/8/2026).
Menurut Asep, kondisi iklim bukan merupakan sumber awal kebakaran, tetapi dapat memperbesar risiko serta mempercepat penyebaran api ketika kebakaran terjadi.
Ia mengatakan aktivitas manusia, termasuk penggunaan api dalam pembukaan lahan, menjadi salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian dalam upaya pencegahan karhutla.
Karena itu, kewaspadaan perlu ditingkatkan, khususnya di wilayah yang memiliki risiko kebakaran tinggi seperti Sumatra Selatan, Riau, Jambi, dan sejumlah wilayah di Kalimantan.
Peningkatan kewaspadaan dapat dilakukan melalui pemantauan titik panas, patroli, kesiapan sumber daya pemadaman, serta edukasi mengenai penggunaan api secara aman.
Asep juga mengingatkan bahwa peraturan perundang-undangan mengatur pengecualian terbatas terkait pembukaan lahan dengan cara membakar dalam konteks kearifan lokal masyarakat.