“Setiap kawasan memiliki karakteristik mobilitas yang berbeda. Karena itu, layanan transportasi publik perlu melihat perjalanan pengguna secara menyeluruh, mulai dari bagaimana pengguna mencapai stasiun, berpindah moda, hingga melanjutkan perjalanan menuju tujuan akhir,” jelas Radhitya.
Selain integrasi antarmoda, kawasan pemukiman Transit Oriented Development (TOD) menjadi bagian dari upaya mendukung mobilitas masyarakat. Keberadaan transportasi publik yang terintegrasi dengan pusat aktivitas masyarakat diharapkan dapat memberikan akses yang mudah bagi masyarakat untuk mendukung mobilitasnya sehari-hari.
Seiring meningkatnya kebutuhan perjalanan, LRT Jabodebek juga melakukan penyesuaian layanan, termasuk optimalisasi frekuensi perjalanan pada periode dengan tingkat permintaan yang lebih tinggi. Hal ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara kapasitas layanan, waktu tunggu, dan kebutuhan perjalanan pengguna.
“Penyesuaian frekuensi menjadi bagian dari upaya LRT Jabodebek mengikuti pola mobilitas masyarakat. Disaat kebutuhan perjalanan meningkat pada periode tertentu, layanan perlu dioptimalkan agar kapasitas yang tersedia dapat menjawab kebutuhan pengguna dengan tetap menjaga keandalan operasional,” terangnya.
LRT Jabodebek akan terus memperkuat pelayanan dan konektivitas sebagai bagian dari ekosistem mobilitas perkotaan. Upaya tersebut akan dilakukan melalui kolaborasi dengan seluruh pihak, agar pengembangan transportasi publik dapat berjalan selaras dengan kebutuhan mobilitas masyarakat dan perkembangan kawasan yang dilayani.
(Taufik Fajar)