JAKARTA - Keahlian mengelola jaringan perpipaan yang selama ini menjadi bagian bisnis energi Pertamina Gas (Pertagas) diterapkan untuk menjawab persoalan irigasi petani di Desa Ganggangpanjang, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.
Pertagas mengganti saluran irigasi berbahan terpal yang rentan bocor dengan pipa PVC AW 6 inci sepanjang 600 meter. Jaringan tersebut dirancang menggunakan pendekatan Pipe Engineering berbasis Hydraulic Grade Line (HGL) untuk menyesuaikan elevasi dan memastikan distribusi air lebih optimal. Inovasi tersebut kini mendukung pengelolaan air untuk sekitar 16 hektare lahan pertanian.
Perbaikan sistem irigasi turut membuka peluang peningkatan intensitas tanam, dari sebelumnya hanya satu kali panen menjadi hingga tiga kali dalam setahun, dengan pola dua kali padi dan satu kali palawija.
Perubahan itu menjadi contoh bagaimana kompetensi inti perusahaan di bidang perpipaan dapat diterapkan untuk menyelesaikan persoalan masyarakat di luar kegiatan operasional utama perusahaan.
Officer External Relation East Region II Pertagas, Adhelia Hasri Miracahyani, mengatakan penerapan teknologi perpipaan di lahan pertanian dilakukan dengan menyesuaikan kondisi geografis dan kebutuhan petani.
“Dari sisi teknik, kami menyesuaikan elevasi pipa. Kami menghitung perbedaan ketinggian dari titik pengambilan air sampai air didorong menggunakan pompa dan mengalir hingga ke ujung jaringan,” ujar Adhelia, Sabtu (29/8/2026).
Sebelum program berjalan, petani menggunakan jaringan irigasi berbahan terpal. Saluran tersebut rentan mengalami kebocoran akibat gesekan sehingga distribusi air tidak selalu optimal. Kondisi itu menjadi salah satu kendala bagi petani untuk mengembangkan pola tanam.
Sebagian lahan juga belum dapat dimanfaatkan secara maksimal karena keterbatasan pengairan. Persoalan tersebut kemudian ditemukan dalam proses pemantauan wilayah oleh tim Pertagas.