Investasi Jadi Kunci Ekonomi RI Tumbuh 5,6 Persen pada 2026

Feby Novalius, Jurnalis
Minggu 30 Agustus 2026 20:00 WIB
Investasi Jadi Kunci Ekonomi RI Tumbuh 5,6 Persen pada 2026 (Foto: Freepik)
Share :

Perkembangan investasi menjadi salah satu indikator yang dinilai penting untuk menjaga momentum pertumbuhan pada semester II. Realisasi investasi pada semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun atau meningkat 7,2 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Juli, kredit investasi tumbuh 23,1 persen secara tahunan, sedangkan kredit modal kerja tumbuh 11,6 persen.

Adrian mengatakan peningkatan pembiayaan perlu diikuti dengan peningkatan investasi riil agar memberikan dampak lebih besar terhadap kapasitas produksi dan penciptaan lapangan kerja.

“Ini yang perlu dijaga pada semester II. Jangan lagi hanya fokus apakah uang tersedia, tetapi apakah pembiayaan benar-benar berubah menjadi belanja modal swasta, ekspansi kapasitas produksi, dan lapangan kerja. Pemerintah sudah memberikan dorongan cukup besar pada semester I. Selanjutnya kebijakan perlu semakin kuat dalam mengurangi hambatan investasi, memberikan kepastian regulasi, mempercepat proyek, dan memastikan likuiditas mengalir ke kegiatan produktif,” jelas Adrian.

Laporan tersebut juga menilai peran pemerintah perlu semakin diarahkan sebagai pengungkit aktivitas ekonomi. Belanja negara tetap diperlukan untuk menjaga daya beli, pelayanan dasar, dan pembangunan. Namun, setelah dorongan fiskal diberikan cukup besar pada semester I, kualitas belanja dinilai semakin penting.

Pendekatan tersebut menekankan pergeseran dari peningkatan nominal belanja (spending more) menuju peningkatan efektivitas belanja (spending better), terutama agar belanja pemerintah dapat mendorong aktivitas ekonomi produktif dan investasi swasta.

Di sisi lain, prospek pertumbuhan Indonesia masih menghadapi risiko eksternal. Pada semester I 2026, rata-rata Global Economic Policy Uncertainty tercatat sekitar 68 persen di atas rata-rata 2024. Sementara itu, Geopolitical Risk Index berada sekitar 55 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata 2024.

Risiko geopolitik, harga energi, kebijakan moneter global yang ketat, dan perubahan arsitektur perdagangan dunia masih menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi perekonomian Indonesia.

Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, proyeksi pertumbuhan 5,3–5,6 persen berada di atas perkiraan IMF dan Bank Dunia yang berada di sekitar 5 persen. Namun, proyeksi tersebut tidak berarti risiko terhadap perekonomian telah berakhir.

Adrian mengatakan ketahanan ekonomi pada semester I perlu diterjemahkan menjadi peningkatan produktivitas, investasi yang lebih berkualitas, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan pendapatan masyarakat.

“Pertumbuhan semester I menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia lebih resilien daripada kesan yang kadang muncul di ruang publik. Tetapi resiliensi bukan berarti semua persoalan selesai. Tantangan berikutnya adalah mengubah ketahanan itu menjadi produktivitas, investasi yang lebih berkualitas, pekerjaan yang lebih baik, dan peningkatan pendapatan masyarakat,” ujar Adrian.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya