Adapun realisasi investasi Jawa Tengah pada semester I 2026 tercatat mencapai Rp48,54 triliun atau 48,99 persen dari target investasi 2026 sebesar Rp99,09 triliun.
Realisasi tersebut terdiri atas penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp25,92 triliun atau 53,40 persen dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp22,62 triliun atau 46,60 persen.
Lima besar wilayah dengan realisasi investasi terbesar di Jawa Tengah adalah Kota Semarang sebesar Rp6,57 triliun, Kabupaten Kendal Rp6,56 triliun, Kabupaten Batang Rp6,11 triliun, Kabupaten Temanggung Rp4,58 triliun dan Kabupaten Demak Rp3,34 triliun.
Susiwijono memandang Jawa Tengah mempunyai prospek investasi yang kuat karena didukung oleh perkembangan kawasan industri dan kontribusi manufaktur yang besar terhadap perekonomian daerah.
Selain itu, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi fisik juga memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian Jawa Tengah, yakni sebesar 31,52 persen, lebih tinggi dibandingkan kontribusi PMTB secara nasional sebesar 29,36 persen.
Meski demikian, Susiwijono menilai kepastian perizinan tetap menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan untuk menjaga minat investor.
“Problem (investor) itu tidak se-ideal itu (bukan hanya masalah perizinan saja), sehingga kita desain kebijakannya di awal dulu. Di dalam operasionalnya, itu selalu banyak tantangan dan kendala di sana,” tambahnya.
Dia mengatakan pemerintah pusat juga membuka ruang konsultasi bagi pemerintah daerah maupun investor apabila menghadapi kendala dalam proses investasi.
Hal itu diperlukan karena kewenangan terkait regulator, kebijakan, dan program investasi berada pada pemerintah pusat, sehingga pemerintah daerah dapat memperoleh dukungan ketika menghadapi persoalan dalam menarik investasi.
(Dani Jumadil Akhir)