Dalam teori konsumsi, keputusan belanja rumah tangga tidak semata-mata ditentukan oleh pendapatan yang diterima dalam satu periode. Rumah tangga juga mempertimbangkan persepsi terhadap pendapatan yang dapat dipertahankan pada masa depan atau permanent income.
Karena itu, ketika masyarakat menilai pendapatan atau kondisi pekerjaan pada masa depan menjadi lebih tidak pasti, kenaikan pendapatan sementara belum tentu langsung diterjemahkan menjadi peningkatan konsumsi.
Perubahan tersebut tercermin dari menurunnya keyakinan konsumen. Indeks Keyakinan Konsumen turun dari 127,0 pada Januari menjadi 117,8 pada Juni 2026, meski masih berada di zona optimistis. Pelemahan juga terlihat pada ekspektasi masyarakat terhadap penghasilan, ketersediaan lapangan kerja, dan kegiatan usaha ke depan.
Kondisi tersebut dapat mendorong rumah tangga melakukan precautionary saving, yakni meningkatkan kehati-hatian dengan mempertahankan sebagian pendapatan sebagai bantalan menghadapi ketidakpastian. Dengan demikian, daya beli bukan hanya berkaitan dengan kemampuan masyarakat untuk melakukan konsumsi saat ini atau ability to spend, tetapi juga dengan kemauan untuk membelanjakan pendapatan atau willingness to spend.
“Rumah tangga tidak hanya melihat kondisi hari ini. Ketika keyakinan terhadap pendapatan dan pekerjaan ke depan mulai menurun, respons yang muncul biasanya adalah meningkatkan kehati-hatian, menunda pengeluaran yang tidak mendesak, dan mempertahankan tabungan lebih lama,” kata Trisha.
Pola tersebut semakin terlihat pada pembelian aset bernilai besar, terutama perumahan. Penjualan rumah primer terkontraksi 25,67 persen secara tahunan pada kuartal I 2026, sementara pertumbuhan KPR/KPA terus melambat hingga satu digit. Dia menilai indikator perumahan memberikan gambaran penting mengenai keyakinan rumah tangga terhadap stabilitas pendapatan, pekerjaan, dan kemampuan membayar dalam jangka panjang.