Namun, apabila pertumbuhan pendapatan riil dan penciptaan lapangan kerja tidak cukup kuat, kemampuan rumah tangga mempertahankan pola konsumsi tersebut akan semakin terbatas.
Karena itu, menjaga konsumsi tidak cukup hanya melalui kebijakan yang mendorong belanja dalam jangka pendek. Stimulus konsumsi dapat memberikan tambahan permintaan sementara, tetapi keberlanjutan konsumsi lebih banyak ditentukan oleh pendapatan riil, kepastian pekerjaan, ekspektasi terhadap kondisi ekonomi, dan kekuatan bantalan keuangan rumah tangga.
“Konsumsi masih resilien, tetapi resiliensi itu tidak tanpa batas. Yang perlu dijaga bukan hanya kemampuan masyarakat untuk berbelanja hari ini, tetapi juga keyakinan mereka bahwa pendapatan dan pekerjaan akan tetap terjaga ke depan,” tutup Trisha.
Dia menilai mempertahankan konsumsi rumah tangga pada semester II 2026 membutuhkan pendekatan yang lebih berorientasi pada penguatan fundamental rumah tangga. Penciptaan pekerjaan yang berkualitas, peningkatan pendapatan riil, pengendalian biaya hidup, serta pemulihan keyakinan terhadap prospek ekonomi menjadi penting agar konsumsi tetap dapat menjadi fondasi pertumbuhan tanpa terlalu bergantung pada stimulus atau momentum musiman.
(Feby Novalius)