“Kita kasih tahu, kita literasi. Kalau memang nggak dipakai, ditutup aja. Karena bank kan nggak punya kewenangan untuk menutupkan,” jelasnya.
Di samping persoalan rekening pasif, tantangan literasi keuangan di tingkat generasi muda juga masih terbilang besar. Meski tingkat inklusi keuangan nasional telah menyentuh angka 93 persen berkat kemudahan akses teknologi, tingkat pemahaman masyarakat terhadap produk keuangan belum sepenuhnya seimbang.
“Artinya mereka sudah terlibat, mereka punya rekening, mereka pakai, mungkin mereka buka rekening secara online, tapi literasinya kan masih rendah. Nah, ini yang kita mau tingkatkan,” jelas Farid.
Untuk memperkecil celah antara inklusi dan literasi tersebut, LPS berkomitmen untuk terus memperluas jangkuan sosialisasi, baik lewat interaksi tatap muka langsung maupun pemanfaatan media digital.
“Yang paling penting buat kita adalah pesannya sampai. Literasinya sampai kepada seluruh kalangan, terutama generasi muda,” pungkas Farid.
(Taufik Fajar)