JAKARTA - Sampah akan disulap menjadi energi. Hal ini melalui pengembangan Decentralized Waste Management (DWM) di Kota Bandung, Jawa Barat.
Dengan DWM ini menjadi langkah awal pengembangan sistem pengelolaan sampah terdesentralisasi di Kota Bandung melalui koordinasi, penjajakan, pengkajian, dan penilaian potensi DWM.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mengolah sampah lebih dekat dengan sumbernya sekaligus membuka peluang pemanfaatan hasil pengolahan sebagai sumber energi dan produk bernilai tambah.
Managing Director Development Investment Danantara Development Management Fund (DDMF) M Rachmat Kaimuddin mengatakan, pengembangan DWM perlu didorong menuju implementasi agar dapat menunjukkan bahwa persoalan sampah dapat ditangani melalui pendekatan yang lebih terintegrasi. Bandung menjadi salah satu lokasi awal yang disiapkan untuk menguji penerapan model tersebut sebelum dikembangkan di daerah lain.
"Pengelolaan sampah tidak cukup dijawab melalui pembahasan dan kajian, tetapi harus segera dibuktikan melalui implementasi di lapangan. Bandung menjadi salah satu lokasi awal untuk menunjukkan bahwa model pengelolaan sampah terdesentralisasi dapat dijalankan dan selanjutnya direplikasi di daerah lain," kata Rachmat dalam keterangannya, Jakarta, Kamis (17/9/2026).
Pengembangan DWM ini ditandai dengan penandatanganan komitmen antara PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) bersama PT Danantara Development Management Fund (DDMF), PT Rekayasa Industri (Rekind), PT Pertamina Power Indonesia (PNRE), dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung di Wisma Danantara Indonesia Jakarta, Senin 14 September 2026.
Komitmen bersama tersebut mencakup identifikasi permasalahan, kebutuhan dan prioritas pengelolaan sampah di Kota Bandung, serta kajian terhadap alternatif teknologi pengolahan. Penilaian juga akan mencakup aspek teknis, lingkungan, sosial, ekonomi, komersial, finansial, hukum, kelembagaan dan tata kelola.
Para pihak juga akan mengidentifikasi lokasi potensial dengan mempertimbangkan kesiapan lahan, akses, utilitas, tata ruang dan lingkungan. Dari sisi bahan baku, kajian mencakup sumber, volume, karakteristik, kontinuitas, pengangkutan hingga mekanisme penyediaan sampah. Hasil pengolahan selanjutnya akan dijajaki pemanfaatan maupun penyerapannya sesuai kebutuhan.
Dalam pengembangan tersebut, PLN EPI berperan sebagai calon pembeli atau penyerap produk hasil pengolahan DWM. PLN EPI akan menyampaikan kebutuhan dan spesifikasi indikatif produk serta melakukan penelaahan awal terhadap aspek teknis, kualitas, kuantitas, kontinuitas, logistik dan potensi pemanfaatannya sebagai bagian dari rantai pasok energi primer.
Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir mengatakan DWM memiliki keterkaitan dengan upaya memperluas pemanfaatan sumber energi berbasis limbah. PLN EPI selama ini telah mengembangkan rantai pasok biomassa untuk mendukung substitusi sebagian bahan bakar fosil pada pembangkit melalui program cofiring.
“Di PLN EPI, kita melakukan substitusi bahan-bahan fosil menjadi bahan-bahan berbasis hayati untuk kelangsungan energi kita melalui cofiring,” kata Hokkop.
Hokkop menyebut PLN telah memanfaatkan sekitar 2,5 juta ton biomassa dalam satu tahun terakhir. Sekitar 99 persen biomassa tersebut berasal dari limbah agro.
Sepanjang satu tahun terakhir, PLN telah memanfaatkan sekitar 2,5 juta ton biomassa, dengan sekitar 99 persen berasal dari limbah agro. Sementara itu, potensi limbah agro di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 80 juta ton per tahun, menunjukkan masih besarnya peluang pemanfaatan limbah menjadi sumber energi maupun produk bernilai tambah.
“Dari semua yang kita paparkan, kita baru deploy 2,5 juta ton. Ternyata potensi limbah agro kita bisa menyentuh 80 juta ton per tahun,” ujar Hokkop.
Pengembangan ekosistem biomassa tersebut juga melibatkan pelaku usaha di berbagai daerah. Saat ini, PLN EPI memiliki sekitar 180 kontrak aktif dalam rantai pasok biomassa, dengan sekitar 60 persen di antaranya melibatkan pelaku usaha muda. Keterlibatan berbagai pelaku tersebut menjadi bagian dari pengembangan ekosistem energi berbasis sumber daya lokal.
Sementara itu, Chief Technology Officer (CTO) BPI Danantara Sigit Puji Santosa menjelaskan DWM dikembangkan untuk melengkapi, bukan menggantikan, pengelolaan sampah tersentralisasi melalui waste-to-energy (WTE). Pendekatan terdesentralisasi dapat diterapkan pada wilayah yang belum memiliki skala ekonomi atau kondisi yang memadai untuk fasilitas WTE berskala besar.
“WTE adalah centralized untuk memanfaatkan energi. Sementara ini decentralized waste management. Jadi, ini tidak menggantikan WTE, tetapi complementary,” kata Sigit.
Menurut Sigit, model desentralisasi dapat diterapkan pada wilayah yang tidak memiliki skala ekonomi atau kondisi yang memungkinkan untuk membangun fasilitas WTE berskala besar. Dengan pengolahan yang lebih dekat dengan sumber sampah, kebutuhan pengangkutan sampah dalam jarak jauh juga dapat ditekan.
Untuk tahap awal di Bandung, pengembangan diarahkan melalui empat Sentra Waste Management (SWK). Masing-masing SWK diproyeksikan memiliki kapasitas sekitar 300 ton sampah, sehingga empat SWK secara keseluruhan berpotensi mengolah sekitar 1.200 ton sampah.
“Empat SWK bisa mengolah 1.200 ton. Ini yang akan kita jalankan,” ujar Sigit.
Sigit menargetkan setidaknya satu hingga dua lokasi DWM dapat mulai dikembangkan pada Desember 2026 atau Januari 2027, dengan Bandung menjadi salah satu lokasi prioritas. Selanjutnya, pengembangan ditargetkan dapat diperluas hingga empat sampai lima lokasi.
Pengembangan DWM akan mencakup sistem pengelolaan dari hulu hingga hilir, mulai dari pemilahan dan penyediaan bahan baku, teknologi pengolahan, pemanfaatan produk hasil pengolahan, hingga penyusunan skema kerja sama dan pembiayaan.
Namun, penandatanganan komitmen bersama ini masih merupakan tahap awal dan belum menjadi keputusan pembangunan proyek secara definitif. Para pihak terlebih dahulu akan melakukan kajian, identifikasi lokasi, pengujian konsep dan teknologi serta penyusunan model kerja sama sebelum memasuki tahap implementasi.
(Dani Jumadil Akhir)