"Untuk lokasi-lokasi yang bersifat off-grid, pasokan listrik direncanakan menggunakan pembangkit berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT)," ujar Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari dalam konferensi pers, dikutip Kamis (17/9/2026).
Ia menambahkan, pembangkit EBT tersebut akan memanfaatkan sumber energi terbarukan yang paling potensial di masing-masing lokasi. Adapun total kebutuhan kapasitas pembangkit skala kecil tersebut diperkirakan mencapai 508 megawatt (MW) di seluruh titik off-grid.
Qodari melanjutkan, secara keseluruhan, kebutuhan biaya untuk mengalirkan listrik ke 10.068 lokasi tersebut diperkirakan mencapai Rp61,65 triliun. Seluruh pembiayaan program direncanakan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dialokasikan secara bertahap selama periode 2025–2029.
Ia berharap program tersebut dapat memperluas akses masyarakat terhadap listrik yang andal sekaligus mengurangi ketergantungan rumah tangga di wilayah terpencil pada sumber energi seperti minyak tanah dan kayu bakar.
"Kehadiran listrik mendorong rumah tangga beralih dari sumber energi seperti minyak tanah dan kayu bakar, sehingga mengurangi biaya yang selama ini mereka keluarkan untuk membeli bahan bakar tersebut," pungkasnya.
(Feby Novalius)