Dari sentimen dalam negeri, perhatian pasar terhadap Indonesia juga tertuju pada kebijakan teknis dari keputusan pemerintah membentuk bursa komoditas untuk mengendalikan harga. Kebijakan selanjutkan diatur oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) disebut akan menentukan produk apa saja yang diperdagangkan, serta tahapan perdagangannya, lewat aturan tersendiri. Beberapa hal yang dipertimbangkan OJK di antaranya adalah kesiapan infrastruktur, stabilitas keuangan, dan integritas pasar. Lewat kebijakan ini juga OJK akan mengambil alih pengaturan bursa tersebut dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) mulai 1 Januari tahun depan.
Pasar akan mencermati keputusan Bank Indonesia di tengah dinamika nilai tukar rupiah, inflasi, serta kebijakan bank sentral global yang terfragmentasi.
Sebagian mengambil sikap hawkish, sebagian lainnya masih memiliki ruang pelonggaran dengan mempertahankan posisi suku bunga acuan.
Namun melihat situasi inflasi global yang tinggi. Kemungkinan gubernur Bank Indonesia dalam rapat di hari rabu akan menaikan suku bunga acuan sebesar 25 bps.
Selain itu pasar juga melihat kembali tentang angka defisit anggaran di bawah batas aman tiga persen produk domestik bruto (PDB) acap kali dijadikan tolok ukur utama kesehatan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN).
Meski berfungsi sebagai pagar disiplin fiskal, angka tersebut dinilai belum menjamin ketahanan ekonomi nasional jika tidak diimbangi dengan kualitas belanja yang memadai.
Rancangan postur RAPBN 2027 yang mencatat target pendapatan negara sebesar Rp3.426 triliun dan belanja negara Rp4.097,2 triliun, sehingga menghasilkan defisit sebesar 2,40 persen terhadap PDB.
Defisit di bawah tiga persen sering diperlakukan seperti stempel kesehatan fiskal. Angkanya memang penting karena memberi pagar bagi disiplin anggaran, tetapi pagar bukan rumah.
Kesehatan postur anggaran negara ditentukan oleh variabel yang jauh lebih mendalam ketimbang sekadar nominal defisit. Faktor-faktor kritikal tersebut meliputi kualitas belanja, beban pembayaran bunga utang, tingkat kekakuan pengeluaran (expenditure rigidity), daya serap terhadap guncangan ekonomi, hingga potensi risiko laten yang belum mencuat di neraca keuangan saat ini.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.750-Rp17.800 per dolar AS. Sedangkan untuk perdagangan pekan depan berada di kisaran Rp17.810-Rp17.860 per dolar AS.
(Taufik Fajar)