JAKARTA - Bank Indonesia (BI) telah menyalurkan insentif likuiditas dengan total nilai mencapai Rp461,2 triliun hingga pekan pertama September 2026.
Injeksi likuiditas tersebut disalurkan melalui kerangka Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM). Porsinya terbagi menjadi KLM untuk mendorong penyaluran pembiayaan sebesar Rp338,2 triliun, serta KLM untuk pendalaman pasar uang senilai Rp123 triliun.
"Hingga minggu pertama September, insentif KLM diperoleh bank Rp 461,2 triliun," kata Gubernur BI Destry Damayanti saat konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG), Rabu (23/9/2026).
Realisasi penyaluran insentif KLM yang diterima perbankan ini mencatatkan kenaikan dari capaian bulan sebelumnya. Pada posisi Agustus 2026, secara nominal nilai KLM yang digelontorkan bank sentral berada di angka Rp446,5 triliun.
Untuk diketahui, Bank Indonesia resmi mengimplementasikan skema baru dalam pemberian insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) kepada jajaran perbankan mulai 1 September 2026.
Lewat pemberlakuan skema teranyar ini, BI bersikap lebih selektif dalam mengucurkan insentif likuiditas. Bank sentral secara cermat mempertimbangkan profil ketahanan likuiditas serta struktur komposisi portofolio dari tiap-tiap bank penerima.