Ketua OJK Minta Masyarakat Siapkan Dana Pensiun Sejak Hari Pertama Kerja

Rohman Wibowo, Jurnalis
Jum'at 25 September 2026 16:13 WIB
Ketua OJK (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan industri dana pensiun untuk segera merespons pergeseran demografi menuju era penuaan populasi serta melimpahnya angkatan kerja nasional sebagai sinyal ekspansi bisnis. 

Ceruk pasar yang berasal dari lebih dari 150 juta tenaga kerja produktif dinilai sebagai potensi pertumbuhan masif yang belum tergarap optimal oleh para pelaku industri.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menekankan soal pergeseran struktur demografi nasional kini kian nyata seiring melonjaknya populasi lanjut usia yang berjalan bersamaan dengan melimpahnya kelompok tenaga kerja produktif. 

Pengelola dana pensiun lantas didorong menangkap momentum dividen demografi ini sebagai peluang emas ekspansi bisnis sebelum beban penuaan penduduk kian menekan perekonomian.

"Indonesia saat ini memasuki fase aging population dengan proporsi lansia mencapai 11,97 persen, melampaui ambang batas penanda masyarakat menua dan diproyeksikan menembus 20,31 persen pada 2045. Di sisi lain, kita memiliki dividen demografi dengan 68,94 persen penduduk usia produktif, yang menjadi jendela kesempatan sangat penting untuk mendorong mereka mempersiapkan pensiun sejak dini sebelum tekanan demografi semakin besar," urai Friderica dalam Indonesia Pensiun Fund Summit, di Jakarta, Jumat (25/9/2026).

Kata perempuan yang akrab disapa Kiki ini memaparkan, kinerja industri dana pensiun sebenarnya menunjukkan lintasan pertumbuhan yang konsisten. Jumlah peserta program tercatat naik dari 27,27 juta orang pada 2022 menjadi 30,67 juta orang per Juli 2026, dengan total akumulasi aset mencapai sekitar Rp1.699 triliun.

Meski pertumbuhan nilai aset dan jumlah kepesertaan terus mendaki, cakupan proteksi hari tua nyatanya masih sangat minim jika dikomparasikan dengan skala angkatan kerja Indonesia yang telah melampaui 150 juta jiwa. 

Lebarnya jarak penetrasi tersebut dinilai menjadi sinyal pasar yang sangat menjanjikan bagi pelaku industri untuk melipatgandakan portofolio nasabah baru.

"Kalau kita lihat persentasenya dibanding jumlah angkatan kerja yang saat ini sudah lebih dari 150 juta orang, porsinya masih sangat kecil. Ruang pertumbuhannya masih sangat luas, sehingga industri ini menyimpan potensi bisnis luar biasa besar yang bisa digarap bersama," jelas Kiki.

 

Kondisi tersebut dianggap Kiki kian krusial mengingat rasio penggantian penghasilan pensiunan di Indonesia saat ini masih bertengger di kisaran 15 hingga 20 persen. Angka ini masih jauh di bawah standar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) sebesar 40 persen, yang menandakan manfaat pencairan pensiun yang diterima pekerja belum memadai untuk mempertahankan standar kelayakan hidup pascakerja.

Menghadapi celah tersebut, regulator menetapkan agenda ganda bagi industri, yakni menggenjot perluasan kepesertaan sekaligus meningkatkan kecukupan manfaat demi menjaga kesehatan finansial kemandirian, dan martabat masyarakat di masa senja.

Upaya meningkatkan taraf hidup masa tua masyarakat menuntut perubahan mendasar pada strategi literasi dan edukasi perencanaan keuangan di tanah air. OJK mendorong pelaku industri berkaca pada pengalaman organisasi regulator global agar sosialisasi proteksi hari tua dimulai sedini mungkin sejak awal karier pekerja.

"Melalui keaktifan OJK di forum regulator dunia, banyak negara anggota menerapkan sosialisasi dana pensiun tepat pada hari pertama seseorang masuk kerja, bahkan sejak bangku kuliah. Kita harus mencontoh praktik tersebut bahwa persiapan masa pensiun semakin dini semakin baik, agar agenda perluasan kepesertaan dan penguatan manfaat mampu menjaga financial health masyarakat di usia lanjut," tutup Kiki.

(Taufik Fajar)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya