Listrik dari PLTS tersebut juga mendukung fasilitas penyimpanan dingin (cold storage) dan mesin pembuat es (ice maker) untuk menjaga kualitas serta meningkatkan nilai ekonomi hasil tangkapan nelayan. Integrasi penyediaan listrik dengan kebutuhan usaha masyarakat memperluas manfaat energi terbarukan bagi kegiatan produktif dan penghidupan warga.
PLTS Pulau Sembur menjadi model yang dapat direplikasi di wilayah kepulauan dengan kebutuhan serupa. Pengembangan ini memperlihatkan bagaimana energi bersih dapat memperluas akses listrik sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
Di sektor bahan bakar nabati, Pertamina terus mendorong pemanfaatan biodiesel melalui pengembangan B50 serta bioetanol berbasis tebu untuk campuran bensin. Pemanfaatan sumber daya domestik tersebut mendukung diversifikasi energi, mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM, dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Pertamina juga mengembangkan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon atau carbon capture and storage (CCS) melalui kerja sama dengan Jepang, Korea, dan negara ASEAN lainnya. Pengembangan CCS menjadi bagian dari strategi dekarbonisasi untuk mendukung penurunan emisi.
Sejalan dengan upaya tersebut, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM RI Rosan Perkasa Roeslani menyampaikan bahwa pemerintah terus mendorong investasi pada sektor strategis, termasuk energi, melalui penyederhanaan perizinan dan berbagai fasilitas investasi.