Rupiah dalam Bayang-Bayang Rp18.000 per Dolar AS Efek Evaluasi MSCI

Rohman Wibowo, Jurnalis
Jum'at 16 Oktober 2026 08:11 WIB
Rupiah dalam Bayang-bayang Rp18.000 per Dolar AS Efek Evaluasi MSCI (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksikan masih berada dalam tren pelemahan akibat gempuran sentimen eksternal dan risiko fiskal domestik. Meningkatnya tekanan inflasi di Negeri Paman Sam serta ketidakpastian tata kelola anggaran di dalam negeri memicu kewaspadaan tinggi pelaku pasar valuta asing.

"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun berisiko ditutup melemah di rentang Rp17.930 hingga Rp17.990 per dolar AS. Lonjakan inflasi konsumen AS yang berada di atas ekspektasi pasar kembali memperkuat posisi dolar dan menekan mata uang negara berkembang," ujar Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya, Jumat (16/10/2026).

Dari sisi eksternal, rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) AS bulan September mencatatkan kenaikan 0,6 persen secara bulanan (month-to-month), meningkat dari realisasi Agustus sebesar 0,4 persen dan sejalan dengan konsensus. 

Kenaikan tersebut mengerek inflasi tahunan AS menjadi 3,7 persen dari sebelumnya 3,4 persen, melampaui proyeksi pasar di level 3,6 persen.

Kenaikan harga bensin, solar, dan komoditas pangan menjadi motor utama laju inflasi umum tersebut. 

Sementara itu, CPI inti yang mengecualikan komponen makanan dan energi tercatat naik 0,3 persen secara bulanan, melampaui estimasi 0,2 persen sekaligus menyamai kecepatan Agustus. Secara tahunan, inflasi inti bertengger di level 2,6 persen dari posisi sebelumnya 2,4 persen, berada di atas estimasi analis sebesar 2,5 persen. 

Penguatan inflasi inti dipicu oleh naiknya biaya tempat tinggal, sewa setara pemilik, sektor rekreasi, pendidikan, serta lonjakan harga mobil dan truk bekas.

Pelaku pasar global kini menahan transaksi sembari mencermati rilis datablanjutan seperti Indeks Harga Produsen (PPI), Penjualan Ritel, klaim awal tunjangan pengangguran, serta rangkaian pidato para pejabat The Fed guna membaca arah suku bunga acuan.

Di pasar modal domestik, sentimen negatif turut diperparah oleh ancaman penurunan bobot saham Indonesia dalam indeks acuan global. Investor mencermati keberlanjutan reformasi bursa dan maraknya suspensi perdagangan saham yang berpotensi memicu arus modal asing keluar.

"Pasar saham Indonesia menghadapi tekanan besar menjelang evaluasi Morgan Stanley Capital International pada November 2026, menyusul estimasi bobot domestik dalam MSCI Emerging Markets yang hanya tersisa sekitar 0,43 persen pada akhir September. Keputusan lembaga tersebut nantinya sangat bergantung pada bukti bahwa reformasi pasar modal berjalan efektif untuk mencegah risiko penurunan klasifikasi pasar," jelas Ibrahim.

 

Tekanan rupiah kian berat lantaran pasar juga menyoroti evaluasi dua tahunbpemerintahan Prabowo-Gibran, khususnya implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) yang dinilai belum memberikan hasil memuaskan. Biaya serta risiko pelaksanaan kedua program tersebut dikhawatirkan mengancam kesinambungan keuangan negara.

Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai pengelola MBG maupun otoritas terkait hingga kini belum mempublikasikan data evaluasi konkret kepada publik terkait dampak program terhadap penurunan angka stunting. 

Alih-alih membuktikan efektivitasnya melalui penelitian mandiri akibat kendala metodologi evaluasi gizi anak di lapangan, pemerintah justru meminjam riset luar untuk meyakinkan publik, padahal skema tersebut menyerap biaya yang sangat mahal.

Kerentanan rupiah juga bertambah seiring sorotan pasar terhadap kesinambungan fiskal dalam membiayai program strategis pemerintah. Pengelolaan anggaran belanja yang terus terkoreksi dinilai mengirimkan sinyal kehati-hatian atas daya tahan keuangan negara dalam jangka menengah.

"Ketidakmampuan fiskal memaksa pemerintah memangkas alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2026 untuk program Makan Bergizi Gratis dari semula Rp335 triliun menjadi Rp248 triliun, lalu diperkecil kembali ke angka Rp218 triliun. Ketidakpastian biaya dan risiko yang mengancam keuangan negara ini menjadi beban tambahan yang memperlemah kepercayaan terhadap rupiah," kata Ibrahim.

(Dani Jumadil Akhir)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya