Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rupiah Jebol ke Rp18.027 per Dolar AS, Sentimen Negatif MSCI Jadi Pemberat

Rohman Wibowo , Jurnalis-Jum'at, 16 Oktober 2026 |16:11 WIB
Rupiah Jebol ke Rp18.027 per Dolar AS, Sentimen Negatif MSCI Jadi Pemberat
Rupiah Hari Ini (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Nilai tukar rupiah merosot 89 poin ke level Rp18.027 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.938 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (16/10/2026),. Di pasar spot, mata uang domestik bahkan sempat terperosok hingga 140 poin sebelum akhirnya pelemahan sedikit terkikis menjelang penutupan.

Tekanan ganda dari sentimen global dan isu degradasi pasar modal Indonesia oleh MSCI melukai kinerja nilai tukar rupiah hingga akhir pekan. Kondisi ini diproyeksikan masih terus membayangi pergerakan mata uang Garuda pada perdagangan berikutnya.

"Secara sentimen eksternal, para pejabat Federal Reserve, yang dipimpin oleh Presiden The Fed San Francisco, Mary Daly, dan Gubernur Michelle Bowman, menyatakan bahwa kenaikan suku bunga dalam waktu dekat mungkin belum diperlukan," kata Pengamat Ekonomi, Mata Uang, & Komoditas, Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya, Jumat (16/10/2026).

Ibrahim menyebut pasar saat ini sedang menunggu arah petunjuk Ketua The Fed Kevin Warsh dalam Pertemuan Tahunan IMF di Bangkok menjelang rapat moneter akhir bulan. Dari dalam negeri, wacana MSCI menurunkan status pasar Indonesia menjadi standalone market pada 30 Juni 2027 akibat masalah tata kelola dan dugaan perdagangan terkoordinasi makin memperkeruh suasana.

Gagasan MSCI tersebut menjadi pukulan telak karena mengancam arus modal asing keluar dari Tanah Air. Potensi aksi jual massal ini membahayakan cadangan likuiditas dan nilai tukar.

"Sebelumnya, Goldman Sachs memperkirakan bahwa penurunan status ini dapat memicu arus keluar modal hingga US$13 miliar, karena para manajer investasi aktif kemungkinan akan mengurangi eksposur mereka guna menghindari ketidaksesuaian dengan tolok ukur. Likuidasi besar-besaran berisiko melemahkan nilai tukar rupiah secara signifikan dan menguras likuiditas pasar," jelas Ibrahim.

 

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement