Jadi menyamakan atau menurunkan kelas Pasar Modal Indonesia ke kategori Standalone Market—yang umumnya diisi oleh pasar-pasar yang relatif terisolasi atau berukuran sangat kecil—adalah hal yang hampir tidak mungkin dan tidak proporsional.
"Ukuran pasar, tingkat likuiditas harian, dan kedalaman industri keuangan kita jauh melampaui kriteria Standalone maupun Frontier Market," tambahnya.
Mengutip catatan Bursa Efek Indonesia (BEI), kapitalisasi pasar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) per 15 Oktober mencapai US$ 572 miliar. Di level Asia Tenggara, IHSG berada di peringkat kedua, hanya kalah dari bursa saham Singapura.
Selain itu, sudah ada 1.017 perusahaan terbuka yang mencatatkan sahamnya. Dari total 1.017 entitas tercatat tersebut, sebanyak 956 perusahaan merupakan emiten saham aktif yang memiliki kewajiban penyampaian laporan keuangan berkala, sedangkan sebagian efek lainnya mencakup Exchange Traded Fund
(ETF), Real Estate Investment Trust (DIRE), dan waran terstruktur.
Sementara terkait reformasi pasar modal sendiri saat ini sudah dilakukan OJK dan SRO seperti transparansi kepemilikan saham di atas 1%, pengklasifikasian jenis investor yang lebih rinci, pengawasan ketat High Shareholding Concentration (HSC), serta Roadmap peningkatan free float minimal 15%.
"Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada OJK dan SRO (BEI, KSEI, KPEI). Langkah-langkah reformasi yang dieksekusi sepanjang tahun 2026 ini sangat konkret. Pengakuan resmi dari FTSE Russell adalah bukti tidak terbantahkan bahwa arah reformasi pasar modal kita sudah berada di jalur yang benar (on the right track)," kata Hans.
Lalu terkait sanksi dan penegakan hukum di Pasar Modal yang belum terlihat, menurut Hans Kwee hanya masalah kesenjangan komunikasi dan pemahaman data (gap of information), bukan berarti penegakan hukum tidak berjalan. OJK secara konsisten dan transparan telah menjatuhkan berbagai sanksi administratif, denda, hingga pembekuan izin terhadap pihak-pihak yang melanggar aturan pasar modal.
"Jadi imbauan kami kepada seluruh pelaku pasar dan investor adalah tetap rasional, tenang, dan fokus pada fundamental. Aktivitas perdagangan, likuiditas, dan operasional bursa berjalan normal seperti biasa. Pasar saham Indonesia memiliki daya tahan (resilience) dan fundamental yang sangat baik," tutupnya.
(Taufik Fajar)