Selain bawang putih, pengembangan klaster komoditas unggulan Indonesia, khususnya kelapa, kopi, dan durian juga turut didorong. Kerja sama tersebut diharapkan dapat memperluas akses pasar, menjaga kualitas produk, dan meningkatkan nilai tambah komoditas Indonesia.
Di bidang investasi, Amran menawarkan peluang bagi perusahaan China untuk mengembangkan industri pengolahan di kawasan khusus yang telah disiapkan pemerintah. Sektor yang ditawarkan antara lain industri kelapa dan produk turunannya, rumput laut, serta industri vaksin untuk pertanian.
“Lahannya sudah siap, legalitasnya juga disiapkan. Investor tinggal datang. Kita ingin membangun industri pengolahan, seperti pabrik kelapa dan rumput laut, sehingga sumber daya yang kita miliki bisa memberikan nilai tambah lebih besar,” jelasnya.
Kerja sama juga diarahkan pada transfer teknologi pertanian modern. Amran mendorong kolaborasi di bidang mekanisasi, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), serta pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas pertanian.
Menanggapi usulan tersebut, Zhang menyatakan dukungannya terhadap pengembangan produksi bawang putih di Indonesia. China siap memperdalam pembahasan teknis mengenai teknologi produksi, teknik penanaman, dan aspek budi daya lainnya.
"Kami sangat mendukung pengembangan produksi bawang putih di Indonesia. Kami siap memperdalam pembahasan, terutama terkait teknologi produksi, penanaman, dan aspek teknis lainnya yang dapat dikerjasamakan oleh kedua negara," ujar Zhang.
Untuk komoditas kopi, kakao, dan kelapa sawit, Zhang menyampaikan China akan mendorong pembentukan kelompok kerja atau working group guna membahas peluang kerja sama lebih lanjut. China juga menawarkan kolaborasi penelitian dan pemanfaatan teknologi, termasuk drone, robot pertanian, serta AI.
Selain itu, China menyatakan kesiapan mengorganisasikan delegasi perusahaan untuk menjajaki peluang investasi di Indonesia.
Amran turut mengusulkan peningkatan kerja sama perdagangan produk susu. Hal ini mengingat kebutuhan susu Indonesia mencapai sekitar 4 juta ton per tahun. Ia juga mengusulkan penelitian gandum untuk mendukung pemenuhan kebutuhan dalam negeri yang masih bergantung pada impor.
(Taufik Fajar)