JAKARTA - Pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular kembali diperluas. Hal ini memungkinkan masyarakat mengubah sampah anorganik menjadi nilai ekonomi yang dapat dicairkan melalui rekening bank.
Direktur Commercial Banking BTN Hermita mengatakan, pengembangan waste station di Alun-Alun Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah merupakan bagian dari strategi yang memperluas peran BTN dari pembiayaan perumahan menjadi pengembangan ekosistem untuk mendukung kualitas kehidupan masyarakat.
"Nah, Beyond Mortgage-nya itu kita bukan hanya mengelola rumah, tapi juga semua ekosistemnya,” ujar Hermita dalam keterangannya, Jakarta, Jumat (6/11/2026).
Menurut Hermita, BTN mengembangkan lima ekosistem utama, yakni pemerintah daerah, kesehatan, pendidikan, pariwisata, dan perdagangan. Kelima ekosistem tersebut berkaitan erat dengan kebutuhan hunian sekaligus aktivitas masyarakat yang menghasilkan sampah. Karena itu, pengelolaan sampah menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem perumahan yang lebih berkelanjutan.
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2024, sampah rumah tangga menyumbang sekitar 50,8% dari total timbulan sampah nasional sebesar 33,79 juta ton. Besarnya kontribusi tersebut menunjukkan pentingnya pengelolaan sampah sejak dari lingkungan permukiman.
Hermita menjelaskan, BTN membuka peluang kerja sama dengan pengembang perumahan, perguruan tinggi, dan pemerintah daerah untuk memperluas pengelolaan sampah. Salah satu gagasan yang didorong adalah penyediaan fasilitas pemilahan sampah di setiap kawasan perumahan agar masyarakat terbiasa mengelola sampah sejak dari rumah.
BTN juga mendorong pemberdayaan generasi muda yang memiliki inovasi pengolahan sampah melalui pelatihan dan business matching dengan pelaku usaha, termasuk pengembang perumahan. Ke depan, pengembangan Waste Station diharapkan tidak hanya mencakup sampah anorganik, tetapi juga sampah organik.
“Jangan cuma kita memindahkan sampah, tapi mengelola sampah,” kata Hermita.
Sekadar informasi, Waste Station Alun-Alun Purwokerto memiliki kapasitas pengumpulan rata-rata sekitar 4 ton sampah per bulan dan beroperasi setiap Selasa hingga Minggu pukul 09.00–18.00 WIB. Masyarakat dapat menyetorkan sampah anorganik seperti botol plastik, kardus, kertas, kaleng, kaca, dan limbah elektronik melalui aplikasi Rekosistem. Sampah yang ditimbang akan dikonversi menjadi poin berdasarkan jenis dan beratnya, kemudian dapat dicairkan menjadi uang melalui rekening BTN.
Pengembangan fasilitas di Banyumas melanjutkan pengalaman waste station di Situbondo yang telah mengumpulkan sekitar 6,8 ton sampah anorganik dengan partisipasi 32 pengguna sejak beroperasi.