JAKARTA - Perkembangan kondisi terakhir krisis Eropa tampaknya cukup positif menekan dolar Amerika Serikat (USD). Akibatnya, rupiah serta merta ikut mendulang penguatan pada awal pekan ini.
Rupiah, menurut kurs tengah Bank Indonesia (BI) menguat ke posisi Rp9.180, jika dibandingkan perdagangan akhir pekan lalu yang berada di Rp9.338 per USD. Sementara menurut data yahoofinance, rupiah menguat ke posisi Rp9.180, dengan kisaran perdagangan harian di Rp9.160-Rp9.260.
Tampak, USD juga mengalami pelemahan atas mata uang lainnya. Misalnya dengan euro, dolar Australia, serta dolar Kanada.
Seperti dilansir dari Valbury Securities, apresiasi euro ini didorong oleh pernyataan China bahwa China tidak memiliki rencana untuk menjual obligasi berdenominasi euro yang dipegangnya secara besar-besaran serta persetujuan parlemen Spanyol untuk melakukan pengetatan bernilai 15 miliar euro.
Sementara Perdana Menteri Italia menyetujui pemangkasan angaran sebesar 24 miliar euro atau setara dengan USD30 miliar sebagai upaya untuk meyakinkan investor bahwa Eropa bisa memangkas defisit anggaran dan mempertahankan mata uang Euro.
"Yunani tidak akan mempengaruhi perekonomian Indonesia, apalagi rasio utang Indonesia jauh lebih kecil dibanding Yunani," jelas Valbury.
Selain itu meredanya suhu konflik di Semenanjung Korea antara Korsel dan Korut juga membantu. Sejumlah sentimen positif lain tampaknya akan mendukung market pekan ini. Pernyataan Mark Mobius dari Templeton Asset Management Ltd yang menyatakan bahwa telah membeli saham-saham di Brazil, Rusia, India, dan China bulan lalu dan merosotnya saham-saham di negara berkembang merupakan koreksi dalam “bull market”, bisa menjadi penawar bagi berlanjutnya kekhawatiran market. Menurut Barclays Plc.
Aliran dana ke hedge fund berbasis Asia diperkirakan mencapai USD8 miliar pada tahun ini dan menjadi double pada akhir 2013 karena investor Amerika dan Eropa berbalik ke wilayah untuk pengembalian.
Risiko dan pembatasan regulasi di Eropa dan Amerika Serikat tiba karena IMF memperkirakan negara berkembang di Asia, selain Jepang, Australia, dan Selandia Baru, akan mengalami ekspansi 8,5 persen pada tahun ini.
(Widi Agustian)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.