JAKARTA - PT Merpati Nusantara Airlines berencana menjual 17 unit pesawat tua berusia di atas 20 tahun untuk menambah modal kerja pada tahun ini.
Pesawat yang akan dilelang berjenis Fokker 27,Fokker 28, dan CN 235.Vice President Auction Asset Management Merpati Nusantara Airlines Purwatmo mengatakan,tahun lalu perusahaannya telah menjual lima unit pesawat. Kelima pesawat yang dijual yaitu tiga unit pesawat Fokker 28,satu unit pesawat CN 235,dan satu unit Fokker 27.
”Tahun 2010 kita sudah jual tiga pesawat Fokker 28, satu Fokker 27 seharga Rp4,5 miliar, lalu satu unit CN 235 yang dibeli Rp300 juta per unit. Sebagian memang sudah tidak laik terbang.Yang ikut lelang kebanyakan dari dalam negeri,” kata Purwatmo di Jakarta.
Purwatmo mengatakan, lelang pesawat ini dilakukan melalui Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL). Meskipun diminati oleh pembeli, lelang ini hanya diadakan dua kali dalam setahun. Padahal, cukup banyak pesawat Merpati yang akan dilelang. ”Awalnya kita diizinkan melelang 25 pesawat pada tahun lalu,tapi karena waktunya sempit, hanya dua kali dalam setahun, maka cuma terjual lima unit, sedangkan sisanya akan kami jual tahun ini,”tambahnya.
Dia mengungkapkan, selama ini banyak calon pembeli yang menganggap pesawat yang dilelang sebagai besi bekas sehingga nilainya dihitung kiloan. Padahal,Merpati mendapatkan izin menjual dari pemerintah dalam bentuk unit. “Kalau dihitung beratnya, satu pesawat itu paling cuma 16 ton,harganya sekitar Rp120 juta. Tapi, kita berhasil jual pesawat yang sudah tidak laik terbang itu dengan harga bagus,”tuturnya.
Bahkan, satu pesawat Fokker 27 masih terjual seharga Rp4,5 miliar yang dibeli oleh salah satu pemerintah daerah di Papua.Namun, pesawat itu harus diganti mesinnya agar kembali bisa terbang. Setelah ganti mesin, pesawat itu akan digunakan untuk melayani penerbangan Jayapura-Wamena. “Penjualan pesawat-pesawat ini berkontribusi besar dalam menunjang cash flow perusahaan,” kata Purwatmo.
Menurut dia, penjualan pesawat- pesawat tersebut tidak akan mengganggu operasional penerbangan. Pasalnya, sebagian besar sudah tidak lagi digunakan. Apalagi, jenis pesawat yang dijual yaitu Fokker 27, Fokker 28, dan CN 235 tidak lagi masuk dalam rencana pengadaan armada pesawat Merpati. “Kita tidak ada lagi rekrutmen pilot dari jenis pesawat- pesawat itu,”ungkapnya.
Dia berharap,Merpati terus dapat memperbarui armadanya seiring pertumbuhan jumlah penumpang angkutan udara. Saat ini sedang dalam proses menentukan harga jual. Dia menambahkan, penjualan pesawat- pesawat yang sudah tua akan mengurangi jumlah armada di hanggar Surabaya. Dengan begitu, kapasitasnya akan menjadi lebih luas untuk pesawat-pesawat baru, seperti dua unit MA-60 sehingga total menjadi 15 pesawat. Saat ini Merpati juga memiliki 11 pesawat Boeing 737.
“Pesawat- pesawat yang sudah tua,di atas 20 tahun, kita jual, kalau tidak harganya akan terus turun,” jelas Purwatmo.
Sementara itu, Direktur Niaga Merpati Nusantara Airlines Toni Aulia Achmad menjelaskan, 17 unit pesawat yang akan dilelang perusahaannya ditender dalam satu paket.Hal ini untuk meningkatkan harga jual pesawat yang akan dijual. Mengingat,pada tahun lalu ada beberapa pesawat yang dijual layaknya besi bekas dengan harga per kilo. “Pendapatan dari penjualan pesawat ini untuk biaya operasional,” ungkapnya.
Menurut Toni, setiap bulan Merpati mengeluarkan biaya Rp170 miliar untuk perawatan (maintenance) pesawat yang saat ini masih beroperasi. Dia menjelaskan, saat ini perusahaan milik pemerintah tersebut mengoperasikan 45 unit pesawat. (heru febrianto)
(Widi Agustian)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.