JAKARTA - Salah satu pilihan dalam membangun rumah yang kokoh adalah dengan menggunakan kerangka baja ringan baik pada atap maupun dinding. Penggunaan rangka baja ringan untuk masyarakat Indonesia belum sepopuler di Jepang.
Country VP Corporate & External Affairs NS Bluescope Indonesia, Lucia Karina menyatakan, rangka baja ringan masih cukup sulit untuk dikenalkan pada masyarakat Indonesia, sebab membutuhkan adaptasi kultur.
"Masyarakat kita masih berpikir rumah itu menggunakan rangka kayu dan dinding beton, sehingga butuh adaptasi dan edukasi untuk menggunakan rangka baja ringan demi keselamatan. Karena kita tinggal di negara yang rawan bencana, utamanya gempa bumi," kata Lucia kepada wartawan di Jakarta, semalam.
Satu hal yang menjadi masalah adalah masyarakat Indonesia masih terpatok pada ukuran harga ketimbang dampaknya pada keselamatan. Menurut Lucia, harga rangka dinding baja ringan berkisar mulai Rp1,5 juta per meter persegi (m2), tergantung pada material yang dipakai. Sementara untuk rangka atap baja ringan berkisar Rp700-Rp800 ribu per m2.
Masalah lainnya adalah banyak juga masyarakat yang terbuai harga rangka baja ringan yang murah. Padahal efeknya sangat fatal, bahkan ada yang baru dibangun beberapa bulan sudah rubuh.
"Bisa dibilang selisih biaya dengan rumah yang menggunakan bata biasa hanya Rp300 ribu per m2, untuk ukuran rumah 40 m2. Kami sendiri sudah melakukan eksperimen membangun rumah dengan rangka baja ringan ini sudah tujuh tahun khususnya di Aceh dan di Yogyakarta yang juga merupakan korban bencana gempa," ungkapnya.
Menurut dia, cara agar tidak tertipu pada rangka baja murahan adalah dengan meminta garansi kain bajanya. Kemudian, cek latar belakang perusahaan atau kontraktornya yang harus memiliki lisensi, misalnya dari Bluescope Indonesia.
(Yuni Astutik)