Karena kesulitan dapat pasien, beberapa pekerjanya berhenti kerja dan jadi pengemis. Burhanuddin mengaku tak sanggup melarang mereka jadi peminta-minta, karena ia sendiri sulit mempertahankan bisnisnya. “Ini hal memprihatinkan, perlu dicari solusi oleh pemerintah,” ujarnya.
Menurut Burhanuddin jumlah penyandang tuna netra di Aceh mencapai 3.000 orang, dan 250 di antaranya berada di Banda Aceh. Mereka rata-rata berpendidikan rendah dan mayoritas tak memiliki keterampilan.
Selain tuna netra, penyandang tuna rungu juga mengeluh sulitnya mendapat pekerjaan sementara mereka butuh uang untuk kebutuhan hidup. Salah satunya Santi. Meski tak bisa bicara, perempuan muda ini bisa menulis.
Ketika diminta mengungkapkan harapannya kepada pemerintah, Santi menulis bahwa ia sangat ingin buka usaha jualan sembako. “Tapi saya tidak ada modal, saya mau dibantu modal dalam bentuk barangnya saja, agar saya bisa jualan.” katanya.
Teman Santi yang lain juga mengungkapkan keinginannya lewat tulisan. Bunyinya adalah meminta pemerintah melatih mereka mengasah batu cincin dan memberi bantuan mesin asah. Menurut mereka demam batu akik melanda Aceh, bisa mereka jadikan peluang bisnis jika pemerintah membantu memfasilitasinya.