"Ya kalau masih seperti itu, kita akan cari komoditi yang di impor ke negara lain," tegas Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan (Kemendag) Nus Nuzulia Ishak di Jakarta, Rabu (25/2/2015).
Nus menjelaskan, ada beberapa beberapa komoditi utama yang sering diimpor Indonesia dari Brasil maupun Australia. Di antaranya berupa soybean atau kacang kedelai senilai USD 845,83 juta atau sekitar 33,13 persen. Tak hanya itu, bahkan Indonesia juga masih mengimpor jagung dari Brasil.
"Jagung senilai USD 310,95 juta atau sekitar 12,18 persen. Kemudian cotton senilai USD 289,86 atau sekitar 11,35 persen dan gula," papar Nus.
Sementara untuk impor dari Australia, yakni gandum, hewan ternak hidup, gula, briket batu bara, daging beku, alumunium, bijih besi, dairy products, cotton dan besi bekas.
"Nilai impor gandum Indonesia dari Australia 2014 saja sekitar USD 1,26 miliar, sedangkan untuk nilai ekspor gandum Australia ke dunia di tahun yang sama senilai USD5,37 miliar," imbuh dia.
Karenanya, dia mengatakan pasar ekspor gandum Australia dari Indonesia ditaksir mencapai 20 persen lebih. Di sisi lain, untuk impor hewan ternak hidup, Indonesia tercatat melakukan impor hingga mencapai USD 682 juta di 2014.
Menurutnya, jika kedua negara terus mengancam Indonesia Brasil dan Australia tidak melakukan intervensi kepada Pemerintah. Dikarenakan,Pemerintah tidak segan-segan untuk menutup aktivitas impor dari kedua negara berbeda benua tersebut. "Kita akan cari komoditi tersebut di negara lain," pungkas dia.
protes keras yang dilakukan kedua negara tersebut, mengenai eksekusi mati sembilan anggota 'Bali Nine' dimana di antaranya terdapat warga negara yang berasal dari keduanya.
(Martin Bagya Kertiyasa)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.