Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Barclay: Rupiah Terancam Kenaikan Suku Bunga Amerika

Widi Agustian , Jurnalis-Senin, 09 Maret 2015 |11:25 WIB
Barclay: Rupiah Terancam Kenaikan Suku Bunga Amerika
Ilustrasi: (Foto: Reuters)
A
A
A

JAKARTA - Euforia Jokowi effect saat pemilu Juli lalu menjadi sentimen positif bagi pasar modal Indonesia. Saat itu, nilai tukar Rupiah sangat cemerlang.

Tapi, nilai Rupiah terus mengalami pelemahan seiring penurunan tingkat suku bunga acuan (BI rate) menjadi 7,5 persen pada pertengahan Februari lalu, ini adalah pemangkasan suku bunga pertama kali sejak tahun 2011. Sejak BI rate turun, Rupiah sudah anjlok sampai 1,8 persen .

Bank Indonesia (BI) juga mengungkapkan rendahnya harga minyak akan mengancam inflasi. Hal ini membuat pemangkasan tingkat suku bunga kembali berpotensi terjadi.

 

"BI melakukan langkah moneter yang mebngejutkan, dan itu membuat tren pelemahan mata uang terus berlanjut," sebut Barclay dalam risetnya, dilansir dari CNBC, Senin (9/3/2015).

"Di Asia, Indonesia yang paling rentan terhadap larinya modal asing, karena berada di tengah-tengah gelombang capital inflow," kata Societe General Barclay, Jason Daw.

Selain itu, isu defisitnya current account menjadi sentimen negatif untuk Indonesia. Pada 2013, Rupiah juga anjlok ketika Fed mulai mengeluatkan isu akan melakukan tapering atas quantitive easing.

Dengan kondisi defisit neraca perdagangan seperti ini, jika bank sentral AS, the Fed, jadi menaikan tingkat suku bunganya, maka Rupiah dia pastikan bakal tenggelam lebih dalam.

"Potensi naiknya suku bunga the Fed pada Juni menjadi ancaman bagi Rupiah," tegas Barclay.

(Rizkie Fauzian)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement