Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Dibutuhkan BUMN Mirip Shinkansen Jika Ingin Bangun Kereta Cepat

Antara , Jurnalis-Sabtu, 11 April 2015 |14:45 WIB
   Dibutuhkan BUMN Mirip Shinkansen Jika Ingin Bangun Kereta Cepat
Ilustrasi Shinkansen. (Foto: Reuters)
A
A
A

JAKARTA - Investor Jepang mengusulkan agar pemerintah Indonesia membentuk BUMN khusus operator moda transportasi kereta cepat. Hal ini dilakukan setelah adanya studi kelayakan proyek rel kereta api cepat serupa Shinkansen.

Deputi Sarana dan Prasarana Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Deddy Priatna, mengatakan bahwa investor Jepang melihat, prospek bisnis kereta api cepat sangat menjanjikan, namun membutuhkan manajemen bisnis yang kuat dan terpisah dari BUMN PT Kereta Api Indonesia.

"Tapi tetap pemerintah boleh putuskan tetap di PT KAI atau tidak. Dari studi kelayakan fase pertama, Jepang memang menginginkan BUMN baru karena bisnis yang sangat besar," kata dia di Jakarta, Sabtu (11/4/2015).

Menurut dia, bahwa hanya negara-negara dengan masyarakat menengah ke atas yang memiliki Shinkansen adalah pendapat kurang tepat. "Dulu Jepang saat punya Shinkansen, 30 tahun yang lalu atau 25 tahun yang lalu, pendapatan per kapitanya tidak terlalu besar, tapi proyek ini bisa mem-boost-up ekonomi," tutur dia.

Sekadar informasi, Investor Jepang dari Badan Kerja Sama Internasional Jepang (Japan International Cooperation Agency/JICA), kata Deddy, baru saja merampungkan studi kelayakan fase pertama dari tiga fase yang direncanakan. Adapun biaya untuk melakukan studi kelayakan tersebut senilai USD15 juta.

Studi kelayakan dari Jepang untuk fase pertama menghasilkan beberapa opsi pembangunan proyek senilai Rp60 triliun itu.

(Martin Bagya Kertiyasa)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement