nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

KAA Jadi Ajang Jokowi Kritik IMF China

Feby Novalius, Jurnalis · Rabu 22 April 2015 21:35 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2015 04 22 20 1138575 kaa-jadi-ajang-jokowi-kritik-imf-china-ypkEDEjMBt.jpg Presiden Joko Widodo. (Foto: Okezone)
JAKARTA – Indonesia sejak pekan lalu menjadi sentra perhatian dunia. Pasalnya, Indonesia menjadi tuan rumah hajatan skala internasional, yakni Konferensi Asia Afrika (KAA) dan World Economic Forum (WEF) 2015.

Dalam acara tersebut, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyempatkan diri untuk menyuarakan pemikirannya. Jokowi pun berani mengkritik World Bank dan International Monetary Fund (IMF), dan Asian Development Bank (ADB) soal permasalahan ekonomi dunia. Menurut Jokowi, pemikiran lembaga asing tersebut tentang perbaikan ekonomi global adalah pemikiran yang sudah usang.

"Itu adalah pandangan usang dan perlu dibuang," tegas Jokowi saat peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-60 di Jakarta Convention Center (JCC) baru-baru ini.

Menurut Jokowi, pengelolaan ekonomi dunia tidak bisa diserahkan hanya kepada tiga lembaga keuangan asing tersebut. Pola pikir tersebut harus segera diubah. "Kita mendesak reformasi arsitektur keuangan global," papar Jokowi.

Menurut Jokowi, saat ini dibutuhkan pimpinan global yang kolektif dan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi baru yang bangkit sebagai negara berpenduduk muslim di muka bumi dan Indonesia sebagai negara demokrasi ketiga di dunia siap memainkan peran global. "Indonesia siap bekerja sama dengan berbagai pihak mewujudkan cita-cita itu," tuturnya.

Tidak hanya tiga lembaga tersebut, dia juga mengkritik pemerintah China yang dianggap memberikan investor yang tidak kompeten. Pasalnya, investor asal China yang melakukan pembangunan pembangkit listrik program Fast Track Program (FTP) tahap I sebesar 10.000 megawatt (MW) tidak melaksanakan tugasnya dengan baik.

Dalam proyek FTP tahap I tersebut, investor China memang menyelesaikan sekira 8.500 megawatt (MW), sementara sisanya diharapkan akan tuntas 2016. Namun, banyak hasil dari proyek tersebut yang tidak maksimal.

Dari seluruh program itu, hanya memberikan liability 55-60 persen yang berarti tidak maksimal.

"Pemerintah China tolong proyeknya ditengok. Karena anak-anak mereka yang kerja di sini itu menghasilkan pekerjaan kurang baik mutunya,"ucap Presiden Jokowi.

Sekadar informasi, perusahaan listrik BUMN asal China tersebut adalah Huadian Hongkong Company Limited, Zhow Lung Jun, Geng ke Cheng, Local Partner China Hudian Janto Soetanto, dan Dening Yao.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini