PEKALONGAN - Pemerintah Kota Pekalongan, Jawa Tengah, meminta para pengusaha batik membangun instalasi pengelolaan air limbah meskipun dalam skala rumah tangga.
Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Pekalongan Muhamad Feizal di Pekalongan, Minggu, mengatakan pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) dan industri rumah tangga pada sektor kerajinan batik bisa membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sebagai upaya meminimalkan tingkat pencemaran sungai.
"Volume limbah yang dihasilkan oleh pabrik belum mampu tertampung dalam IPAL terpadu di Jenggot maupun di Kampung Batik Kauman sehingga perlu adanya pembangunan IPAL yang dibangun oleh pelaku usaha," katanya, Minggu (3/5/2015).
Menurut dia, kendala dalam pembangunan IPAL memang relatif banyak, salah satunya letak geografis Kota Pekalongan yang kondisinya merupakan daerah datar.
"Oleh karena itu, kami akan mulai menyosialisasikan pada masyarakat untuk mulai membangun IPAL skala rumah tangga," katanya.

Ia mengatakan IPAL skala rumah tangga merupakan cara yang lebih realistis dalam memperbanyak pembangunan IPAL untuk menampung limbah cair karena biaya yang dibutuhkan tidak terlalu mahal jika dibandingkan dengan IPAL komunal.
Dia mengharapkan para perajin batik mengolah limbahnya sendiri tanpa harus membuang langsung ke sungai yang dapat menimbulkan pencemaran.
Seorang perajin batik, Fatuhrahman Noor, mengatakan perajin sudah berusaha mengolah limbah batiknya, terutama yang belum tercemar dengan air, yaitu yang belum bercampur dengan air sehingga mudah diurai untuk dijadikan pupuk dan tidak dibuang ke sungai.
"Perilaku mengolah limbah sendiri memang diharapkan menjadi kesadaran dari pelaku indsutri batik melalui praktik langsung di lapangan. Permasalahan limbah tidak akan bisa terselesaikan jika tidak didukung oleh peran serta dari masyarakatnya sendiri," katanya.
(Widi Agustian)