JAKARTA - Menteri Perdagangan (Mendag) Rachmat Gobel mengakui Perum Bulog masih belum mampu menstabilkan bahan-bahan kebutuhan pokok, utamanya harga beras di pasaran.
Pasalnya, hingga saat ini serapan cadangan beras di Bulog masih minim untuk bisa menstabilkan harga beras. Padahal sebentar lagi akan memasuki puasa dan Lebaran, di mana permintaan beras akan melonjak drastis.
"Hingga sekarang ini serapan beras Bulog untuk mensuplai beras di pasaran hanya sebesar 1,2 juta ton atau sekitar 60 persen dari angka ideal serapan Bulog di pasaran," tuturnya di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (18/5/2015).
Dia menjelaskan, mestinya serapan beras Bulog cukup untuk menyuplai pasar sebanyak 2 juta ton. Walaupun demikian, dia menuturkan, untuk menghadapi kebutuhan menjelang puasa dan Lebaran, pemerintah akan membahas pasokan beras pada akhir Mei.

Jika cadangan beras pemerintah dirasa kurang, maka bukan tidak mungkin Kemendag akan melakukan impor beras demi menjaga harga beras di pasaran. "Ya nanti impor, setelah kita bahas, pada Mei. Yang jelas pemerintah concern pada kebutuhan hasil panen. Kita pantau terus. Nanti akan dibahas dan rapat dengan Wapres dan Presiden,"jelasnya.
Ia memaparkan, bahwa hal tersebut pemerintah akan melihat pasokan panen beras dari petani lokal. Mendengar paparan Menteri Pertanian (Mentan), mengaku stok beras hingga bulan puasa masih dapat dipenuhi oleh cadangan beras yang ada.
"Bulog terus melakukan penyerapan dari gabah dari hasil panen yang ada sekarang. Saya diberi tahu oleh Mentan bahwa Jawa Tengah dan Jawa Timur akan panen lagi sehingga diminta untuk Bulog bisa menyerap," jelasnya.
(Widi Agustian)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.