"Yang kita antisipasi adalah bulan September-Oktober. Tetapi kita sudah melakukan langkah-langkah antisipasi seperti pompanisasi, embung, dam parit, dan sumur dangkal,” papar Amran, dilansir dari laman Setkab, Jumat (7/8/2015).
Amran mengatakan,wilayah nusantara merupakan area endemis kekeringan dari 200 ribu hektar yang ada. Tercatat sekira 159 ribu hektare pada tahun lalu, mengalami kondisi kekeringan, banjir, dan hama.
"Tahun ini, karena ada antisipasi lebih awal dengan membentuk tim khusus, namanya Upaya khusus, kita berhasil menyelamatkan kurang lebih 100 ribu hektar, " ujarnya.
Menurutnya, dengan melakukan langkah tersebut diharapkan proyeksi produksi padi dapat mencapai 75,5 juta ton sesuai dengan angka ramalan (aram) Badan Pusat Statistik (BPS).
"Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sudah memaparkan di akhir Oktober sudah ada hujan. Jadi mudah-mudahan kemarau tidak sampai lebih dari bulan Oktober,” imbuhnya.
Sementara itu, pihaknya masih tetap optimistis bila stok pangan dalam beberapa bulan masih terbilang aman sebesar 1,5 juta ton. Sehingga pemerintah diyakini, tidak perlu memberlakukan impor.
“Stok tersebut dianggap aman sehingga tidak perlu impor, karena impor adalah pilihan paling terakhir,” tandasnya.
(Rizkie Fauzian)