"Ikan jadi solusi alternatif jangan semata-mata tergantung daripada daging, paling efisien desak pemerintah untuk berikan pemahaman agar tidak tergantung terhadap sapi," ujar Ismed dalam diskusi Polemik Kabinet Ribet, Ekonomi Mampet di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu (21/8/2015).
Menurutnya, kebijakan pemerintah dalam mengimpor sapi boleh saja dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan harga. Akan tetapi, kebijakan impor tersebut jangan serta merta diberlakukan dengan jumlah yang banyak.
"Kebijakan impor baru itu boleh, tetapi jangan bombastis impor 300 ribu. Makanya itu kan harga sapi bergejolak," imbuhnya.
Selain itu, dia juga meminta pemerintah memaksimalkan kebijakan impor sapi benar-benar dapat meredakan harga di pasaran. Sehingga, dibutuhkan analisa impor yang mumpuni guna sebelum memberlakukan kebijakan tersebut.
"Sebenarnya mulai pikirkan untuk impor sapi dari India, jangan terlalu bergantung dengan impor Australia. Karena Arab itu saja berani impor sapi dari India, kita kan sudah punya ahlinya maka impor sapi yang tidak terkena antraks itu yang diimpor," tukasnya.
(Martin Bagya Kertiyasa)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.