Tercatat, nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada hari Senin 24 Agustus 2015, menembus level psikologis mencapai Rp14.00 per USD, sedangkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 5 persen.
Dengan keadaan seperti ini, apakah Indonesia di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan mengalami krisis ekonomi seperti 1998 dan 2008? Lalu benarkah pada 2008 terjadi krisis?
Ketua Umum Perbanas Sigit Pramono menceritakan, satu pertanyaan ini memecah pendapat orang Indonesia menjadi dua kelompok besar. Kelompok pertama, percaya memang terjadi krisis pada tahun itu. Kelompok kedua kebalikannya.
"Mereka menuduh atau setidak-tidaknya beranggapan bahwa krisis 2008 hanya rekaan dan cerita fiktif para pengambil kebijakan di bidang keuangan," tutur Sigit.
Sigit menambahkan, dua kelompok besar di atas saling beradu argumen tentang krisis 2008 hingga ke ruang pengadilan kasus Bank Century dengan terdakwa yang kemudian divonis bersalah mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Budi Mulya.
Menurut Sigit, sebenarnya tidak sulit mendapatkan jawaban atas pertanyaan, ‘benarkah pada 2008 terjadi krisis?’. Banyak pihak sudah menulis artikel dan buku tentang krisis tersebut. Pemenang Nobel bidang Ilmu Ekonomi, Paul Krugman membahas krisis tersebut secara mendalam dalam buku The Return of Depression on Economics and The Crisis of 2008.
"Kita akan dengan sangat mudah mendapatkan informasi bahwa pada 2008 memang benar terjadi krisis. Syaratnya hanya perlu membuka pikiran dan hati," sambungnya.
Sigit menuturkan, cukup ketik frasa "krisis 2008" pada mesin pencari di internet, maka akan diperoleh informasi lengkap tentang krisis pada 2008 dan dampaknya terhadap sejumlah negara. (rzk)
(Rizkie Fauzian)