JAKARTA - Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengungkapkan, semua negara maju mempunyai utang yang banyak. Namun, untuk rasio utang Indonesia sendiri terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih cukup sehat yakni sekira 25-27 persen.
Pemerintah memang akan membutuhkan utang sekira Rp605,3 triliun untuk pembiayaan pada 2016.
"Hampir semua negara maju utangnya banyak. Hampir tidak ada utang yang hanya 100 persen. Ada yang 150 persen, ada yang 200 persen dari GDP. Dilihat dari segi itu kita sudah lebih sehat," tegas Darmin di Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (7/12/2015).
Sebelumnya, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menyatakan, dibutuhkan utang sekira Rp605,3 triliun untuk pembiayaan pada 2016. Pembiayaan ini meliputi untuk kebutuhan defisit anggaran hingga Penyertaan Modal Negara (PMN).
"Saya fokus mengenai kebutuhan pembiayaan utang untuk 2016," tegas Bambang.
Bambang menjelaskan, total kebutuhan pembiayaan pada 2016 sekira Rp605,3 triliun terdiri dari kebutuhan defisit Rp273,2 triliun, kebutuhan investasi/PMN Rp58,1 triliun, pembayaran jatuh tempo Rp256 triliun yang meliputi jatuh tempo SBN Rp187,2 triliun dan jatuh tempo pinjaman Rp68,8 triliun, kemudian pengelolaan portofolio utang Rp3 triliun, serta SPN Cash Management Rp15 triliun.
Untuk memenuhi pembiayaan tersebut, pemerintah sudah menyiapkan beberapa mekanisme seperti, penerbitan SBN Rp532,4 triliun, penarikan pinjaman LN non SLA Rp69,2 triliun dan penarikan pinjaman DN Rp3,7 triliun.
(Fakhri Rezy)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.