Joni mengatakan, korban dari perkembangan itu tidak lain adalah petani di mana lahan mereka berada di sekitar areal pengembangan perumahan, bisa saja tidak mendapat aliran irigasi subak karena terhambat pembangunan perumahan.
Selain itu, kekhawatirannya cukup beralasan, pasalnya semacam sawah yang dikelola subak mulai perlahan-lahan bergeser dijual masyarakat untuk menjadi tanah kavling.
"Dulunya ada jalur subak di salah satu wilayah desa kami, namun sekarang dihilangkan. Sejenis pundukan atau got aliran irigasi tidak ada lagi akibat pengembangan properti dan kavlingan tanah.
Selain itu, kata dia, akses irigasi ditutup, dan anggota subak kami sempat komplain.
"Kami minta para pengapling jangan cari untung saja di Petandakan ini, waktu ada masalah tidak mau tahu dan lepas tangan," tegasnya.