CIREBON - Musim pancaroba berdampak buruk bagi petambak udang vaname. Mereka pun terpaksa panen dini lantaran banyak udang yang diternaknya itu mati mendadak.
Informasi yang dihimpun KC Online, kondisi itu merata dialami para petambak udang di wilayah Kecamatan Kapetakan Kabupaten Cirebon. Karena kondisi itu, mereka merugi puluhan juta rupiah karena hasil panen yang turun mencapai 70 persen.
“Usia panen seharusnya 60 hari atau lebih. Namun dengan kondisi kematian udang tinggi. Mau tidak mau meski belum usia panen, terpaksa udang-udang yang tersisa harus dipanen,” kata Suganda, salah seorang pemilik tambak udang di Desa Pegagan Kidul, Kecamatan Kapetakan.
Kematian mendadak udang yang baru setengah usia panen, diduga terjadi karena faktor cuaca. Cuaca tidak menentu akibat musim pancaroba yang ditandai dengan panas menyengat dan hujan yang turun tiba-tiba. Sehingga, menyebabkan udang yang berusia 30 hari sampai 40 hari, stres dan akhirnya banyak yang mati. Bahkan ada yang baru ditanam benih, sudah mati.
Dikatakannya, dengan kematian tinggi dan usia dini menyebabkan petani merugi dan terjadi penurunan panen. Menurutnya, untuk satu hektare lahan tambak yang ditanam sampai 150.000 benih udang, seharusnya bisa menghasilkan sampai 1 ton udang.
“Namun akibat panen dini dan kematian mendadak itu, paling banyak hanya bisa panen 400 kg sampai 500 kg udang,” jelasnya.
Saat ini, kata dia, harga jual udang di tingkat petani dengan usia pemeliharaan 40 hari sebesar Rp 37.500 per kg. Diakuinya, petani tambak sebenarnya menyadari akan risiko kegagalan memelihara udang. “Dari pada lahan tambaknya menganggur kan lebih baik dimanfaatkan. Meski dengan resiko gagal panen,” paparnya.
Dikatakannya, untuk satu hektare tambak selama masa pemeliharaan sekitar dua bulan setidaknya dibutuhkan dana sekitar Rp 13 juta. Biaya sebesar itu dibutuhkan untuk pembelian benih, pakan dan tenaga kerja. Total biaya yang harus dikeluarkan tersebut, menurut Suganda, sudah sangat minimal.
Dengan asumsi tambak milik sendiri dan tenaga kerja hanya satu orang untuk masa 20 hari terakhir pemeliharaan. “Kalau tambaknya dapat nyewa dan pemakaian tenaga kerja sejak awal pemeliharaan, ya ongkosnya lebih besar lagi,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislakan) Kabupaten Cirebon, Dedi Nurul mengungkapkan, perairan pantai utara sebenarnya sudah tidak layak lagi untuk memelihara udang. Rendahnya kualitas air dengan tingginya kandungan bakteri patogen dan virus akibat polusi air dari pertumbuhan industri yang tidak terkendali, menjadi penyebabnya.
Kalaupun bisa, kata Dedi, pemeliharaan harus secara super intensif. “Dengan pemeliharaan secara intensif, sebelum digunakan untuk memelihara udang, air laut harus mendapatkan sejumlah perlakuan. Selain itu juga harus didukung sejumlah peralatan yang representatif,” kata Dedi.
Saat ini, pihaknya tengah menggencarkan program penghijauan pantai dengan penanaman bakau, untuk mengembalikan ekosistem perairan Cirebon.
(Amril Amarullah (Okezone))
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.