JAKARTA - Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana akan menerapkan kebijakan cukai BBM terhadap bahan bakar fosil.
Pada saat rencana ini dicanangkan, Pertamina pun secara tegas menolak rencana ini. Pasalnya, BBM dianggap bukanlah sebagai barang yang merusak lingkungan sehingga perlu dikenakan cukai.
Namun, Menteri ESDM Sudirman Said menegaskan, bahwa rencana ini tetap akan diterapkan. Pasalnya, butuh dorongan bagi masyarakat agar dapat menggunakan energi baru dan terbarukan. Dengan begitu, target penggunaan energi baru dan terbarukan sebesar 23 persen pada tahun 2025 pun dapat mencapai target.
"Cukai BBM sebagai suatu konsep baik untuk lingkungan. Tapi implementasinya perlu waktu. Perlu dilihat kemampuan masyarakat," kata Sudirman dalam sesi wawancara ekslusif dengan Okezone di kantor Kementerian ESDM, Jakarta.
(Baca Juga: Pertamina Tolak Rencana Penerapan Cukai BBM)
Penerapan kebijakan ini, kata Sudirman, tidak akan diterapkan dalam jangka pendek. Pemerintah pun secara perlahan akan mencabut semua subsidi BBM terlebih dahulu, termasuk subsidi solar yang saat ini masih diberikan sebesar Rp1.000 per liter.
Apabila subsidi ini dicabut, maka kebijakan cukai BBM baru akan diterapkan. Proses bertahap ini sengaja diterapkan agar masyarakat tidak terkejut ketika pemerintah tiba-tiba nantinya menerapkan kebijakan cukai BBM.
"Tapi di mana-mana memang proses naturalisasi subsidi itu begitu. Jadi pertama disubsidi. Begitu ekonomi membaik subsidi dicabut. Begitu ekonomi membaik lagi, akan dikenakan cukai," pungkas Sudirman.
(Dani Jumadil Akhir)